Sedia Produk Nasa

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping.

Stok produk

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping

Paket Pendaftaran

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping.

Cristal X

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping..

Propolis

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping...

Jumat, 12 Oktober 2012

Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel



Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel
Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel

Bahan yang digunakan untuk Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel:
200 g gula pasir
150 ml air jeruk manis
6 bh pisang raja
1 klg buah appricot
1 bks instant ice cream mix rasa vanila (siap pakai)


Hiasan Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel:
  • Krim kocok
  • Stroberi segar
  • Daun mint
Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel :
  • Panaskan gula pasir hingga menjadi karamel, masukkan air jeruk nipis, masak hingga mengental.
  • Masukkan pisang, masak hingga matang, angkat.
  • Olah instan es krim mix sesuai petunjuk dalam kemasannya.
  • Siapkan wadah saji yang menarik, taruh pisang dan sausnya, appricot, es krim dan hias dengan krim kocok, stroberi dan daun mint.
Untuk 6 porsi.
Kandungan gizi per porsi dari Cara Membuat Es Krim Pisang Karamel:
  •  Energi: 213 Kkal
  •  Protein: 2,5 g
  •  Lemak: 6,4 g
  •  Karbohidrat: 24,3 g

PEMBUATAN NATA DARI LIMBAH KULIT PISANG DENGAN PENENTUAN KADAR SUKROSA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Nata adalah serat yang berbentuk seperti gel yang dibuat dengan memanfaatkan kerja bakteri Acetobacter xylinum. Asam cuka dan pupuk ZA berfungsi untuk media hidup bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini membutuhkan nitrogen dari pupuk ZA dan keasaman dari cuka. Acetobacter xylinum inilah yang nanti akan membentuk nata. Bakteri ini termasuk genus Acetobacter yang memiliki sifat gram negatif, aerob dan berbentuk batang pendek atau kokus.
Untuk membuat nata, dapat digunakan bahan-bahan yang lain seperti kulit pisang atau jus buah-buahan yang mengandung gula. Dalam media cair tersebut bakteri akan tumbuh dan menghasilkan suatu lapisan yang dikenal dengan “nata”.
Metode yang dilakukan adalah mengadakan kerjasama dengan sektor usaha kecil yang memanfaatkan buah pisang, misalnya : usaha gorengan, pabrik roti isi pisang, pabrik kripik pisang, dan lain-lain. Setelah kulit pisang diperoleh, lalu kulit pisang diolah menjadi nata.
Nata de Banana merupakan makanan pencuci mulut (desert). Nata de Banana adalah makanan yang banyak mengandung serat, mengandung selulosa kadar tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan dalam membantu pencernaan.
Kadungan kalori yang rendah pada Nata de Banana merupakan pertimbangan yang tepat produk Nata de Banana sebagai makan diet. Dari segi penampilannya makanan ini memiliki nilai estetika yang tinggi, penampilan warna putih agak bening, tekstur kenyal, aroma segar. Dengan penampilan tersebut maka nata sebagai makanan desert memiliki daya tarik yang tinggi. Dari segi ekonomi produksi nata de banana menjanjikan nilai tambah. Pembuatan nata yang diperkaya dengan vitamin dan mineral akan mempertinggi nilai gizi dari produk ini.
Nata de Banana dibentuk oleh spesies bakteri asam asetat pada permukaan cairan yang mengandung gula, sari buah, atau ekstrak tanaman lain. Beberapa spesies yang termasuk bakteri asam asetat dapat membentuk selulosa, namun selama ini yang paling banyak dipelajari adalah Acetobacter xylinum. Bakteri Acetobacter xylinum termasuk genus Acetobacter. Bakteri Acetobacter xylinum bersifat Gram negatip, aerob, berbentuk batang pendek atau kokus.
Pemanfaatan limbah pengolahan pisang berupa kulit pisang merupakan cara mengoptimalkan pemanfaatan buah pisang. Limbah kulit pisang cukup baik digunakan untuk substrat pembuatan Nata de Banana. Dalam kulit pisang terdapat berbagai nutrisi yang bisa dimanfaatkan bakteri penghasil Nata de Banana. Nutrisi yang terkandung dalam kulit pisang antara lain : gula sukrosa 1,28%, sumber mineral yang beragam antara lain Mg2+ 3,54 gr/l, serta adanya faktor pendukung pertumbuhan (growth promoting factor) merupakan senyawa yang mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil nata (Acetobacter xylinum).
Adanya gula sukrosa dalam kulit pisang akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk Nata de Banana. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa.
Untuk memanfaatkan kulit pisang menjadi bernilai guna, maka dibutuhkan keahlian dan strategi untuk mensosialisasikan produk yang akan dihasilkan agar diterima di masyarakat. Hal itulah yang mendorong munculnya minuman nata berbahan dasar kulit pisang saat ini.

1.2. Dasar teori
Pembuatan nata merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah limbah rumah tangga (kulit pisang, kulit pisang, kulit nanas, dll) dengan bantuan bakeri Acetobakter xylinum. Pembuatan nata de banana skin dimulai dengan mendidihkan ekstrak kulit pisang dengan ditambahkan cuka, gula dan bahan tambahan lainya, kemudian disimpan dalam wadah untuk diinokulasi. Dalam penginokulasian harus pada suhu kamar. Kemudian disimpan selama kurang lebih 10-15 hari atau sampai adanya lembaran nata.
Bibit nata adalah bakteri Acotobacter xylinum yang akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air perasan kulit pisang yang sudah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada kulit pisang tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata. Acetobacter Xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5 – 7,5, namun akan tumbuh optimal bila pH nya 4,3, sedangkan suhu ideal bagi pertumbuhan bakteri Acetobacter Xylinum pada suhu 28°– 31°C. Bakteri ini sangat memerlukan oksigen.

Fermentasi
Fermentasi adalah suatu proses pengubahan senyawa yang terkandung di dalam substrat oleh mikroba (kulture) misalkan senyawa gula menjadi bentuk lain (misalkan selulosa / Nata de Coco), baik merupakan proses pemecahan maupun proses pembentukan dalam situasi aerob maupun anaerob. Jadi proses fermentasi bisa terjadi proses katabolisme maupun proses anabolisme.
Fermentasi substrat air kelapa yang telah dipersiapkan sebelumnya prosesnya sebagai berikut; substrat air kelapa disterilkan dengan menggunakan outoclave atau dengan cara didihkan selama 15 menit. Substrat didinginkan hingga suhu 40oC. Substrat dimasukkan pada nampan atau baskom steril dengan permukaan yang lebar, dengan kedalaman substrat kira-kira 5 cm. Substrat diinokulasi dengan menggunakan starter atau bibit sebanyak 10 % (v/v). Substrat kemudian diaduk rata, ditutup dengan menggunakan kain kasa. Nampan diinkubasi atau diperam dengan cara diletakan pada tempat yang bersih, terhindar dari debu, ditutup dengan menggunakan kain bersih untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Inkubasi dilakukan selama 10 – 15 hari, pada suhu kamar. Pada tahap fermentasi ini tidak boleh digojok. Pada umur 10-15 hari nata dapat dipanen.



Penentuan Sukrosa
Penentuan sukrosa dapat langsung ditentukan jumlahnya dengan refraktometer, selain itu dapat dianalisa dengan cara kimia yaitu dengan menentukan gula reduksi yang dihasilkan setelah sukrosa dihidrolisisa dengan asam atau dengan enzim. Penentuannya dapat secara luff schorl, Lane Eyenon, Munson Walker, iodometri, atau cara enzimatis atau spektrofotometri.
Hidrolisa sukrosa akan dihasilkan 2 mol gula reduksi yang berupa fruktosa yang dapat dituliskan sebagai berikut :
C6 H22 O11 + H2 O  C6 H12 O6 + C6 H12 O6
Sukrosa Fruktoa Glukosa
BM= 342 BM= 180 BM=180
Setelah diketahui jumlah gula reduksi yang dihasilkan dari hidrolisa sukrosa maka dapat dihitung jumlah sukrosa yaitu dengan mengalikan dengan suatu faktor sebesar 0,95. Faktor ini diperoleh dari perbandingan BM sukrosadengan BM dua molekul gula reduksi
Faktor konversi = BM sukrosa = 342 / 2x 180 = 0,95
2 BM gula reduksi
Luff Schoorl
Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu :
1. Penentuan Cu tereduksi dengan I2
2. Menggunakan prosedur Lae-Eynon
Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%.
Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.
Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut :
R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O
2 Cu2+ + 4 I- Cu2I2 + I2
2 S2O32- + I2 S4O62- + 2 I-
Monosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen.

Molish
Karbohidrat oleh asam sulfat akan dihidrolisa menjadi monosakarida dan selanjutnya monosakarida mengalami dehidrasi oleh asam sulfat menjadi furfural atau hidroksi metil furfural. Furfural atau hidroksi metil furfural dengan alfa naftol akan berkondensasi membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu. Apabila pemberian asam sulfat pada larutan karbohidrat yang telah diberi alfa naftoh melelui dinding gelas dan secara hati-hati maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin pada batas antara larutan karbohidrat dengan asam sulfat.

Fufural Alfa naftol Metil furfural
Dehidrasi pentosa oleh asam akan dihasilkan furfural, dehidrasi heksosa menghasilkan hiodroksi metil furfural, dan hidriksi ramnosa dehasilkan metil furfural.


1.3. Profil bahan

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. ×paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.
Nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi daripada apel. Apel dengan berat sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalori. Karbohidrat pisang menyediakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biskuit, dan sejenis roti. Oleh sebab itu, banyak atlet saat jeda atau istirahat mengonsumsi pisang sebagai cadangan energi.
Kandungan energi pisang merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan dan dapat secara cepat tersedia bagi tubuh.
Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indek glikemik lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul rasa kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi, sehingga aktivitas secara biologis juga menurun.
Glukosa darah terutama didapat dari asupan makanan sumber karbohidrat. Pisang adalah alternatif terbaik untuk menyediakan energi di saat-saat istirahat atau jeda, pada waktu otak sangat membutuhkan energi yang cepat tersedia untuk aktivitas biologis.
Namun, kandungan protein dan lemak pisang ternyata kurang bagus dan sangat rendah, yaitu hanya 2,3 persen dan 0,13 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan protein pisang masih lebih tinggi dari apel, yang hanya 0,3 persen. Karena itu, tidak perlu takut kegemukan walau mengonsumsi pisang dalam jumlah banyak.


BAB II
LANGKAH KERJA

2.1. Bahan Yang Digunakan :
1. Kulit pisang kapok
2. Gula pasir
3. Bakteri Acetobacter xylinum
4. Pupuk ZA
5. Asam cuka
6. Garam Inggris
7. Air
8. Sirup
9. Amilum
10. Indikator luff schoorl
11. Indikator molisch

2.2. Alat Yang Digunakan :
1. Blender
2. Timbangan
3. Gelas ukur
4. Cetakan
5. Kain saring
6. Sendok
7. Pisau
8. Panci
9. Kompor
10. Pengaduk

2.3. Langkah – langkah Pembuatan Nata :
1. Daging buah yang menempel pada kulit pisang bagian dalam dikerok.
2. Ditimbang sebanyak 400 gr.
3. Ditambahkan air dengan perbandingan 1 : 2, lalu diblender hingga halus.
4. Rebus air sebanyak 800 ml. 600 ml untuk pencampuran nata, sedangkan sisanya untuk mensterilkan botol kaca dan toples.
5. Disaring dengan kain saring hingga diperoleh filtrat (cairan hasil penyaringan).
6. Masukkan ke dalam panci lalu panaskan di atas kompor. Setelah mendidih, tambahkan gula pasir 10 % b/v, asam cuka 0,5 %v/v (bila yang digunakan asam cuka di pasaran 4-5 % v/v), pupuk ZA 0,125% b/v ( 1 pucuk sendok teh), dan garam Inggris 0,01 % b/v. Aduk sampai larut lalu angkat.
7. Tuangkan ke dalam cetakan yang telah disterilkan (dicuci dengan air panas), dengan ketinggian cairan adonan lebih kurang 2-3 cm di setiap cetakan. Segera tutup dengan kertas (Koran, majalah, kertas merang).
Catatan : cetakan ditutup dengan kertas koran supaya udara tetap bisa masuk melalui pori-pori kertas.
8. Diamkan sampai dingin (sekitar 1 jam), baru kemudian ditambahkan starter (bibit bakteri Acetobacter xylinum sebanyak 10% v/v.
Catatan :
- Sebelum memasukkan bakteri, adonan harus benar-benar dingin, sebab kalau masih panas bakteri akan mati.
- Cetakan harus diletakkan di tempat yang aman, jauh dari gangguan. Goyangan atau pemindahan cetakan menyebabkan serat nata gagal terbentuk karena bakteri ini bekerja menganyam serat dari atas ke bawah, sehingga bila digoyang menyebabkan bakteri jatuh dan tidak mau bekerja lagi.
9. Fermentasi selama 10 hari.
10. Setelah 10 hari,serta nata dapat dipanen. Angkat serat nata dari cetakan dan cuci, lalu peras dengan kain saring (agar tidak licin).
11. Iris dengan ukuran sesuai selera, lalu masak dengan air sampai mendidih.
12. Tiriskan dan peras lagi dengan kain saring, lalu dimasak lagi. Pemasakan dilakukan sampai bau asam cuka hilang.

2.4. Cara Pengujian
2.4.1. Analisis Kualitatif Karbohidrat Kulit Pisang
a. Uji Molish
Ditambahkan 5 tetes reagen Molish ke dalam tabung berisi 2 ml larutan sampel. Kemudian ditambahkan H2SO4 pekat melalui dinding tabung. Amati terbentuknya cincin ungu berarti sampel mengandung karbohidrat.

b. Uji Benedict
Ditambahkan 8 tetes larutan sampel yang mengandung 5 ml reagen Benedict. Kemudian tabung ditempatkan dalam panci dan didihkan selama 3 menit. Biarkan pada suhu kamar dan diamati terbentuknya endapan merah bata yang menunjukkan adanya gula pereduksi dalam sampel.

2.4.2. Analisis Kuantitatif Kulit Pisang Metode Luff Schoorl
a. Ambil 5 ml sampel setelah disaring dalam Erlenmeyer, ditambahkan 25 ml reagen. Dibuat juga larutan blanko,yaitu 25 ml reagen Luff Schoorl ditambah 25 ml aquades.
b. Kedua larutan didihkan selama 2 menit.
c. Didinginkan cepat-cepat dan ditambahkan 15 ml larutan KI 20% serta ditambahkan 25 ml H2SO4 26,5% melalui dinding Erlenmeyer.
d. Iodium yang dibebaskan dititrasi dengan Na2S2O3 memakai indikator amilum sebanyak 2-3 ml yang ditambahkan menjelang titik akhir titrasi.
e. Hadar gula reduksi dalam sampel ditentukan dari selisih volume titran sampel dan blanko dengan bantuan sampel.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Sifat fisik nata de banana skin :
1. Warna nata sedikit lebih gelap jika dibandingkan dengan nata de banana.
2. Produk hasil nata de banana paling banyak daripada produk nata dari kulit pisang maupun kulit nanas.
3. Nata de banana dapat ditambah dengan sirup untuk meningkatkan cita rasa dan warna.
4. Penentuan kadar sukrosa dengan metode luff schoorl:
Volume Na2S2O3 0,1 N yang diperlukan untuk :
Tirasi blanko = 22,6 ml
Titrasi sampel = 10,6 ml
Selisih volume = (22,6-10,6)ml = 12,00 ml
Berdasarkan tabel pada lampiran untuk volume 12 ml Na2S2O3 0,1 N, maka kadar sukrosa sebesar 30,3, ml.
Volume sampel 2ml, sehingga kadar sukrosa( 30,3 mg/ 2 ) sebesar 15,015 mg/ml. Atau dalam 100 ml sampel 1501,5 gr/100 ml = 1,5015mg/100ml % (b/v).

4.2. Pembahasan
Karbohidrat oleh asam sulfat akan dihidrolisa menjadi monosakarida dan selanjutnya monosakarida mengalami dehidrasi oleh asam sulfat menjadi furfural atau hidroksi metil furfural. Furfural atau hidroksi metil furfural dengan alfa naftol akan berkondensasi membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu. Apabila pemberian asam sulfat pada larutan karbohidrat yang telah diberi alfa naftoh melelui dinding gelas dan secara hati-hati maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin pada batas antara larutan karbohidrat dengan asam sulfat.
Penentuan sukrosa ditentukan jumlahnya dengan luff schorl, dari hasil titrasi yang dilakukan diperoleh volume Na2S2O3 0,1 N sebanyak 22,6 ml pada larutan blangko, dan 10,6 ml pada larutan sampel. Sehingga diperoleh selisih diantara keduanya yaitu sebesar 12 ml. Berdasarkan tabel pada lampiran, maka untuk volume 12 ml Na2S2O3 0,1 ml, maka kadar sukrosa sebesar 30,3 ml.
Dengan volume sampel 2 ml, sehingga kadar sukrosa sebesar 15,015 mg. Maka kadar sukrosa dalam sampel diperoleh 1501,5 mg/ 100 ml atau 1,5015 gram/ 100 ml % (b/v)
Hidrolisa sukrosa akan dihasilkan 2 mol gula reduksi yang berupa fruktosa yang dapat dituliskan sebagai berikut :
C6 H22 O11 + H2 O  C6 H12 O6 + C6 H12 O6
Sukrosa Fruktoa Glukosa
BM= 342 BM= 180 BM=180
Dalam praktikum ini digunakan kulit pisang sebagai bahan baku pembuatan nata de banana skin. Kulit pisang yang digunakan adalah kulit bagian hanya dalam, hal ini untuk menjaga kualitas nata yang dihasilkan agar lebih baik dan mempunyai kandungan glukosa yang tinggi. Selanjutnya kulit pisang diblander untuk memudahkan praktikan untuk mendapatkan kandungan karbohidrat yang tersimpan dalam kulit pisang.
Pemanasan air perasan kulit pisang bertujuan untuk mensterilkan bahan baku, yang akan difermentasi, sehingga bakteri stater mampu untuk bertumbuh di media air perasan kulit pisang. Sedangkan fungsi penambahan pupuk ZA ialah untuk meningkatkan nutrisi dalam media untuk pertumbuhan bakteri selama fermentasi.
Asam asetat atau asam cuka digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan keasaman air perasan kulit pisang. Dalam praktikum ini asam asetat yang digunakan adalah asam cuka dapur dengan kadar 80%. Pada dasarnya asam asetat yang baik adalah asam asetat glacial (99,8%). Akan tetapi, asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat digunakan, namun untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH 4,5 – 5,5 dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain asan asetat, asam-asam organik dan anorganik lain bisa digunakan. pH 4,5-5,5 adalah kondisi yang produktif untuk banteri stater berkembang biak dengan baik, sehingga kondisi ini perlu dijaga.
Dari hasil pengamatan fermentasi yang dilakukan selama 2 minggu, pada minggu pertama pembentukan nata kurang begitu cepat, sehingga lapisan nata yang terbentuk sangat tipis. Akan tetapi setelah mengalami fermentasi selama 2 minggu nata de banana yang dihasilkan cukup baik, bahkan memiliki ketebalan dan massa yang besar.
Proses pemasakan produk nata secara berulang ulang bertujuan untuk mematikan bakteri yang masih aktif didalam produk nata, selain itu melarutkan kandungan alkohol yang dihasilkan selama proses fermentasi oleh bakteri.


BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pemberian asam sulfat pada larutan karbohidrat yang telah diberi alfa naftoh melelui dinding gelas dan secara hati-hati maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin pada batas antara larutan karbohidrat dengan asam sulfat.
2. Furfural atau hidroksi metil furfural dengan alfa naftol akan berkondensasi membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu.
3. Dari hasil fermentasi air perasan kulit pisang, diperoleh produk nata de banana skin yang padat dan tebal..
4. Kulit pisang yang selama ini dibuang karena dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki nilai guna dan bernilai ekonomis.
5. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, nata dari kulit pisang masih memiliki peluang pasar yang baik karena di pasaran masih jarang dijumpai nata yang berbahan dasar kulit pisang. Pembuatan produk nata berbahan dasar kulit pisang ini tidak memerlukan dana yang terlalu besar, karena bahan dasar yang digunakan mudah untuk didapat dan harganya juga tidak terlalu mahal.


DAFTAR PUSTAKA

Sulistyomaty, E, 2010, Petunjuk Praktikum Food Technology
http://onlinebuku.com/2009/01/29/pemanfaatan-limbah-dari-tanaman-pisang/
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/pkm/article/view/2371
(www.Evimeinar.multiply.com/reviews/item/42)
http://samm171185.blogspot.com/2008/05/panduan-praktikum-pembuatan-nata-de_28.html
http://queenofsheeba.wordpress.com/2009/11/17/luff-schoorl/

Jumat, 05 Oktober 2012

Cermin Jiwa


Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala Ulfa.
Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu, dan bunga-bunga liar.
Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang. Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan, menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.
Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub, melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas, peninggalan kakeknya.
Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja, burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau. Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan. Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.
"Tolong panggilkan ayah dan ibumu," pinta ayah Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu liar, beringas, dan menyerang.
Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.
"Aku ingin bicara juga dengan istrimu," kata ayah Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut, getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.
"Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh."
Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum. "Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa," sahut Abah Lutfi, teduh dan lembut.
Buru-buru Umi menyambut. "Aku minta waktu agar anak gadisku cukup matang."
Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian, mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang, bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.
Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri. Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman. Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi.
Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit. Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.
Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan. Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan Umi bergantian, kehilangan suara.
Telah mengering sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam. Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.
"Apa yang Abah risaukan?" tegur Ulfa, pelan, teduh.
"Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?"
"Kenapa mesti ditampik?"
Terbatuk, Abah Lutfi menukas, "Kau menerimanya?"
"Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini."
"Kau menerima Ismail?"
"Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada wajah ayah Ismail."
"Ho-ho, kau selalu begitu!"
Seketika, tersenyum dan cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi, makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan. Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.
Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim tanam padi.
Malam hari ayah Ismail memasuki rumah, pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.
"Telah kulamar Ulfa untukmu," kata ayah Ismail, berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang. Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.
Melihat ayah Ismail bergegas ke surau, Umi cemberut. Sesekali ia mengerling ke arah lelaki tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi?tanpa disadarinya?bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat. Kembali sunyi.
Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup. Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.
"Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke surau?" gerutu Umi.
"Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau kita. Bukannya mabuk," tukas Ulfa, mencengangkan. "Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu."
"Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan mencuri sarang burung walet."
Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit, hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang bergegas ke surau.
Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.
Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata, datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga. Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih. Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu, kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa. Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.
Kini orang-orang mulai melihat cericit burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas. Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.
Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor. Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun meraup tersengat matahari.
Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus mengitari kepala Ismail.
Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu. Terhenti. Menanti teguran.
"Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana kelanjutan lamaran ayahnya dulu?"
"Biar Ismail sendiri yang menentukan," tukas Ulfa tenang. "Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya. Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku suka memandanginya."

Sabtu, 22 September 2012

CINTA BUTA SANG PENULIS MUDA 5




===================================================


Bagian V

Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…! Ding Dong…!
Jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Saat itu, di atas single bed yang empuk, seorang pemuda tampak merenung. Dialah Boy yang kini sedang merenungi putusan berat yang akan diambilnya. Sebuah putusan yang menurut akal sehatnya sangat kejam, tidak manusiawi, dan tidaklah adil. "Hmm… gimana mungkin gua bisa mutusin Indah. Waktu gua ultimatum aja dia udah nangis, gimana kalau dia betul-betul gua putusin. Gak mustahil kalau nantinya dia bakal bunuh diri. Indah adalah pemuja rahasia gua, tentu cintanya udah dalam banget. Sebetulnya Indah itu cewek yang baik, tapi sayangnya dia belum paham akan arti kehidupan. Dia hanyalah salah satu korban pemikiran, korban pemikiran para kaum materialis yang udah mencuci otaknya sejak dia masih kanak-kanak. Gimana enggak, waktu masih kecil dia udah dicekokin dengan mainan Barbie, yang dengan segala atribut materialistisnya berhasil menciptakan image kalau wanita cantik itu adalah wanita yang mempesona, tampil dengan berbagai atributnya yang wah. Dan setelah Indah pandai membaca, yang dibaca pun berbagai bahan bacaan yang membuat pola pikirnya lebih mengedepankan nilai materialistis, dimana kebahagiaan dan kepuasan hidup cuma bisa dicapai dengan materi. Bacaannya sekarang aja masih seputar gaya hidup materialistis, yaitu berbagai majalah yang lebih mengedepankan nilai-nilai materialisme. Dari soal fashion hingga ke pola makan, bahkan sampai ke pergaulan bebas yang menyimpang.
Hmm… sesungguhnya Indah menjadi seperti itu bukanlah kesalahannya semata, tapi lebih kepada kebijakan pemerintah yang enggak mampu melindunginya, yang atas nama "demokrasi" dan "HAM" terus membiarkan pencucian otak yang menyesatkan itu. Selama ini Indah terpaksa mengikuti derasnya arus kehidupan materialistis yang udah menjadi trend, dimana jika melawan arus maka kehidupannya akan terasa susah dan enggak menyenangkan, bahkan bisa membuat dirinya merasa asing dan terbelakang. Tentu minder rasanya jika punya HP hitam putih, sedang di sebelahnya orang asyik memijit-mijit HP full color dengan suaranya yang terdengar tiga dimensi. Padahal tuh HP sama-sama bisa buat ngobrol dan SMS-an. Malah ada seorang anak SMP yang menjual kehormatannya demi mendapatkan HP terbaru yang paling lengkap fasilitasnya, padahal tuh fasilitas juga gak pernah dipake. Kalaupun dipake paling juga buat yang enggak-enggak. Gengsi… itulah sebuah pertanda kalau orang sudah dihinggapi oleh penyakit materialistis. Orang membeli sesuatu bukan lagi karena kebutuhannya yang mendesak, namun lebih kepada gengsi dan untuk menyombongkan diri. Tentu bangga rasanya jika punya HP full color yang bersuara tiga dimensi, sedang di sebelahnya orang tampak minder memijit-mijit HP hitam putihnya. Sungguh… Banyak uang yang terbuang percuma atas nama gengsi, padahal masih banyak orang yang makan saja harus mengais sampah dulu, layaknya seperti kucing kelaparan. Sungguh sebuah kesenjangan sosial yang memprihatinkan, tercipta karena ulah kaum materialis yang akan terus mencuci otak manusia agar lebih mencintai materi. Seandainya Indah dapat memahami surat Al An'aam 32, tentu dia tidak akan menjadi seperti itu.
Duhai Allah… Berat rasanya jika aku harus menyakiti Indah, yang selama ini kutahu hanyalah sebagai korban pencucian otak. Apalagi jika dia sampai bunuh diri, tentu akan sangat membebani perasaanku. Sungguh anjuran Haris itu sangat menyesatkan dan tak layak kuturuti, sebab Indah memang belum siap menikah, apalagi dengan orang sepertiku yang belum mapan. Sungguh hal itu tidak bisa kusepelekan begitu saja, sebab tidak mustahil jika nantinya Indah memang akan bunuh diri. Duhai Allah… sepertinya aku memang harus mengalah demi orang yang kucintai itu, sepertinya aku memang harus berani mengambil risiko terlibat kepada hal yang syubhat. Mengalah bukan berarti kalah, sebab aku bisa membalik keadaan dikemudian hari. Duhai Allah, berikanlah aku kesabaran, berilah aku kekuatan dalam menjalani ujian ini. Amin…" ucap Boy seraya melanjutkannya dengan doa untuk tidur.
Tampaknya Boy sudah begitu terpedaya oleh cinta butanya, sampai-sampai dia mencari pembenaran untuk berani terlibat di dalam hal yang syubhat. Pemikirannya bukan hanya berpedoman kepada nilai-nilai humanisme, namun juga sudah berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Padahal, jelas sekali Al-Quran dan AL-Hadits sudah memperingati untuk meninggalkan hal yang syubat itu. Begitulah jika manusia sudah berani memahami sebuah ayat dan hadits dengan tanpa pertimbangan yang matang, seenak nafsunya dia mencari pembenaran dengan tanpa mempedulikan konteks lain yang lebih utama. Padahal sejatinya, kepeduliannya itu bukan berarti harus terlibat di dalamnya.
Sungguh, keyakinan Boy yang semula kuat kini mulai goyah, dan itu semua karena dampak dari cinta butanya, yang dengan perlahan namun pasti, kini mulai menyeretnya mengikuti arus. Memang benar apa yang dipikirkannya, memang benar apa yang dikatakannya, namun sayangnya dia tak menyadari kalau kepeduliannya itu justru bisa menjerumuskan dirinya sendiri. Sejak Boy mencintai Indah, cita-citanya yang mulia perlahan mulai bergeser. Kini tujuan utamanya menulis bukanlah lagi untuk berdakwah, melainkan menjadikannya sebagai sumber pendapatan yang bisa mengisi pundi-pundi uangnya, sekalipun itu harus mengorbankan idealismenya dengan tunduk kepada selera pasar. Dan agar bisa lebih cepat mapan, dia pun berniat menjalankan MLM-nya yang dulu sempat ditinggalkan, sekalipun itu harus dijalankan dengan tanpa mempedulikan etika yang islami, yang dengan janji manis membuai merahasiakan rintangan yang ada. Dengan kata lain, kini dia mulai berani menghalalkan berbagai cara yang dia sendiri sangat menentangnya. Tidak mengapa, katanya. Sebab, dia punya satu kata andalan guna bisa menentramkan hatinya, kata itu adalah "darurat", satu kata yang sangat mempuni guna membelenggu hukum atas nama keterpaksaan. Sungguh begitu mudahnya Boy mengatasnamakan keterpaksaan, padahal dia sendiri belum melaksanakan anjuran Haris. Begitulah jika manusia sudah berani mengambil putusan bukan berdasarkan hukum, melainkan hanya berdasarkan praduga dan rekaan yang dia sendiri belum menjalaninya.


Pagi harinya, Boy tampak begitu bersemangat hendak menulis novel terbarunya. Novel ringan yang ditujukan untuk mereka yang malas berpikir, menceritakan tentang kehidupan anak remaja sehari-hari, berisi tentang perkara jatuh cinta, patah hati, persahabatan, permusuhan, dan konflik keluarga. Pesan moral berdasarkan sudut pandang humanisme yang berketuhanan, psikologi ringan tanpa beban. Maklumlah, kini dia menyadari kalau remaja sekarang adalah korban-korban pencucian otak yang tidak menyadari kalau dirinya telah dibodohi. Pola pikirnya pun masih dangkal, hanya memikirkan perkara materi yang sebetulnya semu. Karenanyalah mereka lebih menggandrungi perihal yang sifatnya mimpi dan khayalan. Prilakunya pun penuh dengan kepura-puraan bak wayang yang bergerak menuruti kemauan sang Dalang, walau siapa pun dalangnya. Padahal hakikinya, manusia itu harus menjadi khalifah yang memahami tujuan hidup, dan menjalankan misinya sesuai dengan keinginan Sang Pencipta.
Kini Boy tampak mulai menulis bagian pertamanya, menceritakan tentang seorang cowok yang baru menyadari dirinya jatuh cinta. Bahan ceritanya diambil dari pengalaman pribadi yang dimodifikasi seenak fantasinya.
Kring...! Kring...! Kring...! "Duuuh... telepon lagi. Pasti deh itu dari pemuja rahasia. Dasar gak punya kerjaan. Emangnya enak apa ditelepon melulu, mana gak penting lagi. Mentang-mentang gua ganteng, trus dia bisa senaknya neleponin gua terus. Ah, masa bodolah... pokoknya gua gak mau angkat, biar yang lain aja yang angkat tuh telepon. Dia gak tau kali kalo gua lagi sibuk blajar, soalnya besok kan gua mo ulangan. Tuh kan, lupa deh... Hmmm... sampe dimana tadi ya?" Jekky tampak garuk-garuk kepala yang emang banyak kutunya, lantas spontan melihat ke luar jendela yang saat itu mulai senja. Seketika darah pemuda itu berdesir, dilihatnya seorang cewek kece tampak melintas dengan anggunnya. "Wow...! Makin hari Shifa makin tambah kece aja? Kenapa ya, kok setiap kali gua liat dia perasan gua jadi gak karuan kayak gini. Hmm… jangan-jangan gua udah jatuh cinta. Tapi, masa sih gua bisa jatuh cinta sama cewek berjilbab kayak dia. Padahal, gua kan gak suka sama cewek yang sok alim gitu," kata Jekky memikirkan cewek di seberang jendela tadi.
Boy terus menulis dan menulis, karakter yang bernama Jekky dilakonkan dengan seenak dengkulnya. Hingga akhirnya, dia pun kebelet pipis. Sementara itu di tempat berbeda, Indah tampak baru saja selesai membaca majalah CG. "Huaahh…! Ngatuk," ucap Indah seraya merenggangkan persendiannya. Pada saat itu, dikejauhan sayur-sayup terdengar azan zuhur yang berkumandang. "Wah, udah waktunya makan siang nih," kata Indah seraya bergegas ke meja makan.
Kini gadis itu tampak mengambil sedikit nasi dengan lauk jengkol balado ala Batavia. Begitulah Indah, yang selama ini sering mengaku pada temannya tidak pernah makan jengkol, tapi kalau di rumah ternyata jengkol itu merupakan menu favoritnya. Enak katanya, legit dan gurih. Usai menikmati santap siang dengan lauk kegemarannya, Indah pun segera meneguk segelas air soda, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berkumur air kopi. Memang begitulah yang dilakukan Indah setiap habis makan jengkol, tujuannya adalah agar mulut dan pipisnya tidak bau jengkol. Sebuah resep turun-temurun yang katanya sangat ampuh. Benarkah begitu? Entahlah… penulis juga tidak tahu. Sungguh kebiasaan aneh yang penulis sendiri malas untuk mengujinya.
"Mmm… skaranglah saatnya untuk tidur siang," kata Indah seraya melangkah ke kamar dan merebahkan diri.
"In, kamu udah sholat?" tanya Ibunya yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu.
"Duuh, kenapa sih Mami nanyain soal itu melulu."
"Mami tuh cuma ngingetin, In. Habis kalau tidak begitu, khawatirnya kamu lupa. Selama ini Mami sudah membiarkanmu tidak sholat karena Mami menganggapmu sudah dewasa, yang mana tidak perlu lagi disuruh-suruh. Tapi sekarang, kamu itu kan sudah jadi pacarnya Boy. Bagaimana coba, kalau orang tuanya Boy tahu kamu itu tidak pernah sholat, bisa-bisa mereka tidak jadi besan sama keluarga kita lantaran tahu calon menantunya tidak taat agama."
"Jangan khawatir, Mam. Tadi juga, aku tuh baru kelar sholat. Udah ya Mam, skarang tuh aku mau tidur siang dulu."
"Ya, sudah. Jangan lupa, sholat ashar jangan sampai kelewatan."
"Iya, Mam…" kata Indah seraya memperhatikan kepergian ibunya. Saat itu dia betul-betul merasa jengkel dengan kebiasaan baru ibunya yang sering mengingatkannya untuk sholat. "Huh, sebel... Ibadah apaan cuma tunggang-tungging begitu, gak ada gunanya. Hal kayak begitu kan cuma ritualnya orang-orang bodoh yang gak punya kerjaan. Padahal, ibadah yang utama itu kan mempelajari ilmu pengetahuan, sehingga dengan begitu terciptalah peradaban maju yang bisa mensejahterakan umat manusia. Buktinya, skarang ini manusia bisa hidup enak dan lebih baik lantaran jasa orang-orang yang mengutamakan ilmu pengetahuan. Pantes aja orang Islam gak pernah maju-maju, itu semua karena mereka telah salah mengartikan perintah sholat. Padahal di Al-Quran gak ada satu pun ayat yang ngajarin supaya sholat dengan cara tunggang-tungging begitu. Cara begitu cuma ada di hadits yang belum tentu benar keasliannya."
Begitulah Indah, yang isi kepalanya sudah diracuni, sehingga dia hanya mampu menggali sebatas itu, yaitu sebatas kesejahteraan umat manusia di dunia, yang tak lain dan tak bukan hanyalah soal materi. Padahal sejatinya, manusia itu diharapkan untuk mampu menggali lebih dalam lagi, yaitu meliputi seluruh ciptaan Allah, baik yang nyata maupun yang gaib. Sesungguhnya, ibadah ritual yang diajarkan Rasulullah adalah sarana untuk penyucian jiwa, sehingga manusia mampu menggali luasnya ilmu Allah bukan berdasarkan panca indra saja, melainkan juga dengan mata batinnya. Hingga akhirnya dia pun bisa mengenal Tuhan dan bisa menyadari hakikat tujuan diciptakannya. Pada suatu hari nanti, akan ada manusia yang bisa mengungkap hal itu dengan sebenar-benarnya. Dialah Al Mahdi, seorang manusia biasa (bukan rasul) yang akan mengajarkan hakikat kebenaran sejati. Kemunculannya adalah pertanda sudah dekatnya hari Kiamat. Al Mahdi adalah bukti bahwa Allah telah menciptakan manusia beserta alam semesta bukanlah untuk main-main, dan karenanyalah setelah kemunculannya, Allah SWT akan segera mengantarkan manusia untuk kembali kepada-Nya, yaitu dengan mendatangkan hari kiamat setelah menghadirkan masa keemasan Islam. Sebuah periode masa akhir zaman, dimana umat manusia akan mengalami zaman perdamaian, keamanan, kebahagian, dan kesejahteraan terbesar yang dikenal sebagai Masa Keemasan.
Allah SWT berfirman, Ad Dukhaan 38. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.
Al Mu'minuun 115. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
"In, Indah…! Ada temanmu, nih. Si Lala..!" teriak sang Ibu memberitahu.
Mengetahui itu, Indah yang baru saja ngelayap terpaksa bangun dan bergegas menemui sahabatnya. Dan setelah cipika-cipiki, keduanya pun segera duduk di kursi teras, menceritakan peristiwa yang selama ini mereka alami. "Apa??? Kamu udah jadi pacar Boy?" tanya Lala dengan keterkejutan yang amat sangat,
"Lho, kok kamu terkejut gitu sih, La. Biasa aja lagi, bukankah kamu juga yang bilang kalau dia akan sangat mencintaiku."
"Memang sih. Tapi, kok mau ya dia pacaran sama kamu. Bukankah dia itu orang yang anti pacaran."
"Ya, mulanya sih dia mo ngajak aku langsung kawin. Tapi karena saat ini aku emang belum siap, akhirnya dia mo ngertiin juga. Sungguh dia itu emang cowok yang pengertian banget."
Dalam hati, Lala benar-benar kecewa. "Hmm… aku betul-betul enggak nyangka kalau Indah gak menepati janjinya, dan Boy pun mau aja menuruti kemauannya."
"O ya, La. Ngomong-ngomong, apa kamu udah nulis novel baru?" tanya Indah membuyarkan pikiran Lala.
"Eng, udah sih. Tapi, baru kelar 45 persen. Maklum aja, belakangan ini aku emang lagi gak konsen nulis."
"Emm… ngomong-ngomong, temanya soal apa?"
"Masih soal perzinahan dan busana muslimah yang sempurna."
"O, jadi masih soal kayak begitu. Eh, La. Sekali-kali, bikin dong novel yang bertema emansipasi dan keseteraan gender. Menceritakan cewek seperti aku, yang dengan kegigihannya menuntut ilmu hingga akhirnya sukses dalam berkarir, yaitu bisa menjadi pemimpin perusahaan yang beromset milyaran dan menciptakan banyak lapangan kerja."
"Dan dia akan menjadi perawan tua karena banyak lekaki yang minder mendekatinya. Dan setelah berumah tangga kehidupan rumah tangganya pun akan hancur berantakan. Begitu kan?" tanya Lala menambahkan.
"Ya enggak begitu, La. Dia akan kawin pada usia yang tepat, dan kehidupan rumah tangganya akan menjadi sangat harmonis."
"Mimpi… Emangnya gampang sukses dalam waktu singkat. Seandainya dia emang bisa kawin pada usia yang tepat, emangnya gampang buat seorang istri bisa menjalankan dua peran sekaligus, tentu salah satunya ada yang mesti dikorbankan. Dan gak gampang pula buat suami yang punya istri seperti itu, butuh kesabaran yang tinggi dan nilai keimanan yang kuat. Kalo enggak, bisa-bisa suaminya selingkuh dan melakukan perzinahan. Maklumlah, siklus biologis laki-laki dan perempuan itu kan beda banget, laki-laki emang lebih cepet kangen ketimbang perempuan. Coba aja lu renungin! Gimana suami gak selingkuh jika istri lagi dibutuhin, eh dia malah sibuk rapat diluar kota, apalagi jika sampai rapat ke luar negeri. Gak kebayang deh, gimana dongkolnya suami kalo lagi pas kangen-kangennya istri gak ada di rumah. Dan Kalo udah punya anak, maka anak-anaknya pun harus sabar dan kuat imannya. Kalo enggak, dia bisa jadi anak yang kurang perhatian yang akhirnya melampiaskannya dengan narkoba dan pergaulan bebas yang menyimpang.
Hmm… kini aku ngerti kenapa kamu gak siap kawin sama Boy. Selain Boy itu masih belum mapan, ternyata kamu juga punya cinta-cita mo jadi wanita karir. Pantes aja orang tuamu buru-buru mo ngawinin kamu sama pria beristri tiga itu, sebab mereka khawatir kamu bakal jadi perawan tua. Kasian juga si Boy, harus menunggu sampai berapa lama hingga kamu sukses."
"Percaya deh, La. Itu bukan mimpi, dan aku pasti bisa mewujudkannya tanpa harus menjadi perawan tua, dan kelak bisa membina rumah tangga dengan harmonis."
"Ya udah kalo kamu emang punya keyakinan begitu. Kalo aku sih mending jadi ibu rumah tangga, yang kalo ada waktu luang bisa iseng-iseng nulis novel atau iseng-iseng bikin industri rumah tangga. Jika kegiatan itu terbukti enggak mengganggu kepentingan keluarga, tentunya bisa kuteruskan. Namun jika ternyata mengganggu, ya tinggal dihentikan saja. Pokoknya kepentingan rumah tangga itu harus lebih kuutamakan. O ya, ngomong-ngomong kapan kamu akan buka usaha?"
"Gak lama lagi, La. Kalo kursus kepemimpinan dan kepribadianku udah kelar."
Kedua wanita itu terus berbincang-bincang hingga akhirnya Lala pamit pulang ketika waktu sudah menjelang ashar.


Beberapa hari kemudian, Boy menerima sepucuk surat dari Lala. Sungguh dia tidak menyangka kalau wanita itu mau menulis surat untuknya. "Hmm… ini surat apa ya?" tanya boy penasaran. Lantas dengan segera pemuda itu pun segera membaca isinya.

Dear, Boy! Assalam…

Langsung aja ya. Hihihi…! Aku masih inget banget waktu pertama kali kita kenalan dulu. Waktu itu kita satu bis, duduk berdampingan di kursi yang sama. Kamu yang saat itu lagi nge-drug dengan polosnya mengaku, kalo kamu tuh suka padaku. Hihihi,,,! Saat itu kamu tuh lucu banget. Sok PD gitu, trus banyak ngibulnya lagi. Semula aku tuh sempet takut juga duduk sama kamu, namun setelah aku tau kalau kamu itu baik akhirnya aku gak takut lagi. Saat itu aku betul-betul prihatin, kenapa ya orang sebaik kamu bisa terjerumus kayak gitu. Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk berteman dengan kamu, hingga akhirnya kita bisa menjadi teman yang akrab. Terus terang, dari kebiasaan kamu yang suka mabuk-mabukan, akhirnya menginspirasikanku untuk menulis beberapa cerpen dengan tema narkoba. Hingga pada suatu ketika, dari salah satu cerpen itulah akhirnya kamu sadar kalau perbuatan kamu itu salah. Trus terang, aku gak nyangka kalau cerpenku itu bisa membuat kamu sadar. Dan sejak itulah, aku baru menyadari kalau tulisanku ternyata bisa juga mempengaruhi orang yang membacanya. Hingga akhirnya aku pun merasa tertantang untuk menulis tema lainnya, yang barangkali aja bisa juga berdampak positif kepada pembacanya. Salah satu tema yang kuangkat adalah perkara hijab. Namun anehnya, dari sekian banyak cerpen yang kutulis gak satu pun yang berhasil membuat teman-temanku tergerak hatinya.
Hmm… apa yang salah ya? Tanyaku waktu itu. Setelah membandingkannya dengan cerpen bertema narkoba yang membuatmu tersadar akhirnya aku menemukan jawaban, kalau apa yang kutulis itu memang mempunyai latar belakang yang berbeda. Waktu aku menulis tema narkoba, motifasiku adalah kepedulian kepada orang-orang sepertimu yang telah menjadi korban salah pergaulan, dan aku pun saat itu juga bukan seorang pemakai. Latar belakang berbeda itulah yang membuatku tersadar kenapa tema soal hijab itu tidak berpengaruh. Ternyata, motifasiku menulis tema hijab itu adalah atas dasar kesombongan, dan aku pun tidak pernah mengamalkan apa yang kutulis itu. Padahal Allah sangat membenci orang yang demikian.
44. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut di atas (S.2: 44) tentang kaum Yahudi Madinah yang pada waktu itu berkata kepada mantunya, kaum kerabatnya dan saudara sesusunya yang telah masuk agama Islam: "Tetaplah kamu pada agama yang kamu anut (Islam) dan apa-apa yang diperintahkan oleh Muhammad, karena perintahnya benar." Ia menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya. Ayat ini (S. 2: 44) sebagai peringatan kepada orang yang melakukan perbuatan seperti itu.
(Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa'labi dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Ash Shaff 2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Ash Shaff 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Karena itulah, akhirnya aku memutuskan untuk berubah, yaitu dengan menjadikan tulisanku sebagai nasihat untukku, dan aku pun segera mengamalkan apa yang sudah kutulis itu. Alhamdulillah,,, akhirnya tulisanku bisa juga berdampak positif kepada mereka yang membacanya, sebab teman-temanku yang dulu menolak akhirnya mau juga mengikuti jejakku. Kini hanya tinggal Indah saja yang belum mengenakannya, dan itu karena dia tidak ikhlas ketika membaca cerpen-cerpenku. Padahal syarat untuk diterimanya kebenaran adalah harus sama-sama ikhlas, baik yang menerima maupun yang menyampaikan. Selama ini Indah bukannya merenungi cerpen-cerpenku, tapi dia malah menjadikannya sebagai bahan perdebatan untuk menyerangku. Namun begitu, aku berusaha untuk tetap sabar hingga kelak dia mau merenungi apa yang telah kusampaikan.
Boy… kamu mau tau kenapa aku menulis mengenai pengalamanku itu. Sebab, aku begitu sayang dan cinta padamu. Ketahuilah! Kalau kini kau sudah menjadi orang yang munafik. Buktinya, apa yang sudah kau tulis ternyata tidak kau amalkan. Kau mengajak orang untuk tidak pacaran, tapi kau sendiri justru pacaran. Aku mohon… Segeralah nikahi Indah! Jika Indah tidak mau, segeralah putuskanlah dia. Ketahuilah! Aku merestui niat Indah yang mau menjadikanmu pacar boongan karena aku percaya kalau kamu itu adalah cowok yang anti pacaran, yang akan langsung menikahi gadis yang kaucintai. Tapi ternyata, kamu telah begitu mengecewakan aku. Sungguh aku tidak menduga, semula kupikir kau itu orang yang memegang teguh prinsip. Tapi ternyata, kamu itu seorang yang masih labil dan mudah sekali terpedaya bisikan syetan. Buktinya, sekarang kamu malah melakukan perbuatan yang dulu begitu kautentang. Boy… sekali lagi aku mohon. Segeralah nikahi Indah atau kamu putuskan dia! Jika kamu sudah menikah dengan Indah, aku doakan semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amin…
O ya, Boy… Dalam surat ini aku juga ingin memberitahumu bahwa aku akan segera menjalani hukumanku. Sebab, aku merasa taubatku belumlah diterima selama aku belum menjalani hukuman itu. Karenanyalah, aku mohon doa darimu agar aku bisa menjalaninya dengan tabah. Satu lagi permintaanku, Boy. Aku mohon kau mau merenungkan surat berikut: An Nisaa' 16. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Akhir kata, maafkanlah segala kelancangan dan kekhilafanku selama ini, baik yang sengaja kulakukan maupun yang tidak. O ya, terima kasih karena selama ini kamu sudah menjadi temanku yang baik, dan aku pun berharap kiranya kita akan selalu tetap seperti itu.

Wassalam…


Lala

Usai membaca surat itu, Boy pun langsung merenung. Sungguh dia tidak menduga kalau Lala pun menganjurkan untuk segera menikahi Indah atau memutuskannya, sama persis seperti yang dianjurkan Haris. Lama dia merenungkan hal itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali membicarakan masalah itu dengan Indah.


Css… css… css…! "Nah udah wangi," kata Boy seraya meletakkan botol minyak wanginya di atas lemari. Lantas dengan bersemangat pemuda itu segera melaju ke rumah Indah. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya dia tiba juga di rumah kekasihnya. Kini pemuda itu sudah duduk berhadapan dengan Indah dan segera membicarakan perkara surat Lala.
"Apa??? Lala menganjurkanmu begitu?" tanya Indah dengan alis merapat.
"Ya, dan yang menganjurkan begitu bukan cuma Lala. Tapi juga Haris, sahabat terbaik gua."
"Boy mereka itu orang-orang yang sirik sama hubungan kita. Apa lagi si Lala, dia itu pasti mau merebut kamu dariku. Dia menganjurkanmu mengultimatumku karena dia tahu, hal itu emang bagai buah simalakama buatku. Huh, dasar cewek munafik. Dulu dia pura-pura begitu merelakan kamu untukku, tapi sekarang dia malah mau merebutnya."
"In, lu tu bicara apa? Lala bukanlah orang yang kayak gitu. Perlu lu tau, dia bicara begitu karena dia peduli sama gua yang kini emang udah terjerat sama cinta buta. Lagi pula, dia pasti gak bakal mau kawin sama gua."
"Apa??? Lala gak bakal mau. Lho, emangnya kenapa..?" tanya Indah bingung.
"Sebab, dia mau menjalani hukuman itu. Dan itu artinya, dia akan ngerasa enggak pantes kawin sama cowok pezina kayak gua."
"Be-benarkah begitu?"
Boy mengangguk
"Hmm… Baguslah kalau begitu. Jika dia emang cewek yang konsisten, tentu dia akan kekeh sama prinsipnya yang begitu mempersoalkan status."
"In…" kata Boy tiba-tiba. "Skarang kayaknya gua kudu brani mengambil putusan. Lu mau kita segera kawin, apa lu mau gua putusin. Terus-terang, gua gak mau punya istri wanita karir, dan kayaknya gua juga gak sangup kalo mesti nunggu lu sampe sukses."
Kedua muda-mudi itu terus memperbincangkan hal itu, hingga akhirnya Indah menangis karena tak kuasa memberikan jawaban. Sungguh sebuah jawaban yang menyulitkan, di satu sisi dia tidak mau jika cita-citanya berakhir begitu saja, dan di lain sisi dia juga tidak mau jika sampai kehilangan Boy. Saat itu Boy hampir saja terpengaruh, namun karena dia sudah mempersiapkan diri akhirnya dia bisa tegar juga menghadapinya. Kini pemuda itu sudah mohon diri dan sedang melaju dengan sepeda motornya. Dalam perjalanan, pemuda itu terus dihantui perasaan bersalah, bahkan dia sempat membayangkan berbagai peristiwa yang mungkin terjadi. Namun, lagi-lagi dia berusaha untuk tegar, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mampir ke rumah Lala. Dan setibanya di di sana, Boy tampak begitu kecewa. Sungguh dia tidak menyangka kalau Lala ternyata sudah hijrah ke Aceh¾sebuah tempat yang diharapkan bisa menjadi tempat pelaksanakan eksekusinya. Lantas dengan segala perasan yang bercampur-baur tak karuan, pemuda itu pun segera memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi demi melampiaskan segala kegundahan di hatinya.


Esok harinya, ketika Boy sedang merenung di teras rumahnya, Haris sengaja datang menemuinya. Rupanya pemuda itu ingin memberikan dukungan atas putusan berat yang sudah diambil oleh sahabatnya, juga ingin membantunya agar tidak sampai mengalami goncangan jiwa karena merasa berdosa. "Udalah, Boy… yang loe lakuin itu udah betul. Emang gak enak rasanya mutusin orang yang kita cintai, apa lagi kalo cewek itu udah dalem banget cintanya. Tapi biarpun begitu, pasti ada hikmah yang bisa kita petik untuk kedepannya. Coba deh lu renungin ayat berikut:
At Taubah 24. Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Karenanyalah, seharusnya elo itu senang karena udah mampu ngelepasin diri dari cinta buta. Dan mengenai perkara Lala, itu semua terserah putusan loe. Boy… jika loe emang mau menikahi Lala. Kayaknya emang gak ada cara lain. Mau gak mau, elo juga harus menjalani hukuman itu. Dengan begitu, status loe tentu akan kembali sama dengan dia, dan itu artinya dia gak mungkin bisa menolak lamaran elo. Dan setelah menikah, elo bedua Insya Allah bisa bahagia di dalam pengasingan nanti," saran Haris yang kini sudah betul-betul bisa menghormati keyakinan sahabatnya.
Boy dan Haris terus berbincang-bincang dengan penuh keakraban. Hingga akhirnya percakapan mereka terputus karena telepon di rumah Boy yang terus berdering. "Bentar ya, Ris!" pinta Boy seraya bergegas masuk.
Tak lama kemudian, pemuda itu sudah kembali dengan derai air mata yang membasahi pipi, kemudian duduk di tempat semula tanpa berkata sepatah kata pun, hanya terdengar isak tangis yang terdengar begitu memilukan.
"Loe kenapa, Boy?" tanya Haris prihatin.
"I-Indah, Ris… Di-dia…" Boy tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Saat itu derai air matanya tampak kian bertambah deras.
"Di-Dia kenapa, Boy?" tanya Haris masih meragukan dugaan di hatinya.
"Di-dia udah gak ada, Ris. Di-dia udah pergi untuk selama-lamanya…" jelas Boy dengan masih terus terisak.
"Innalillah…!" ucap Haris dengan mata yang kini tampak berkaca-kaca. Saat itu dia betul-betul shock karena anjurannya ternyata telah membawa sebuah petaka. Ingin rasanya dia menyalahkan dirinya sendiri, namun akhirnya dia memahami kalau semua itu memang sudah kehendak Tuhan, yang tentunya bisa menjadi hikmah untuk mereka yang mau berpikir. Bukankah anjurannya itu dalam rangka memerangi kemungkaran, yaitu agar Boy bisa memerangi hawa nafsunya agar bisa lepas dari jerat cinta butanya.

Al Baqarah 216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

"Ris… A-apa yang gua takutin akhirnya kejadian juga. "
"Udalah, Boy… Lu tuh harus sabar. Semua itu emang udah takdir Tuhan yang gak bisa dibantah."
"Ta-tapi gua merasa berdosa, Ris… Su-sungguh gua betul-betul gak nyangka, ka-kalo gua sampe dua kali ngalamin kejadian kayak gini. Ris ketahuilah… Gua tuh udah cinta dan sayang banget sama Indah. Dan gu-gua bener-bener sedih kalo dia meninggal dengan cara kayak begitu. Gu-gua gak sanggup ngebayangin gimana dia akan tambah menderita di alam sana."
"Boy… Gue bisa ngerasain gimana pedihnya perasaan elo. Terus terang, emang sedih banget rasanya kalo orang yang kita cintai, orang yang kita sayangi terpaksa harus menderita di alam sana. Tapi, apakah dengan ngerasa berdosa dan larut dalam kesedihan yang mendalam lantas Indah akan diampuni dosanya. Gak akan, boy. Cuma amal perbuatannyalah yang bisa membantunya. Baginda Rasulullah pun gak bisa berbuat apa-apa ketika paman beliau yang begitu dicintainya harus meninggal dalam keadaan enggak beriman. Menyedihkan memang, tapi begitulah kehidupan.
Ketahuilah, Boy…! Life is a game, begitu kata para programmer luar negeri. Begitu pun Allah SWT berfirman.

Al 'Ankabuut 64. Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

Al Hadiid 20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Bukhari Muslim Diriwayatkan daripada Anas bin Malik r.a katanya: Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda: Ya Allah! Tidak ada kehidupan yang kekal sama sekali kecuali kehidupan di Akhirat. Maka ampunkanlah orang-orang Ansar dan Muhajirin

Boy… seandainya Indah bisa memahami hal itu, tentu dia enggak akan mau menyerah kalah begitu aja. Bukankah permainan di dunia ini gampang, hanya mengenai takwa yang misinya juga udah jelas ada di dalam Al-Quran. Score-nya pun ada, yaitu pahala dan dosa, yang kelak akan menjadi penentu kita kalah atau menang. Kalau menang kita akan dihadiahkan surga, dan kalau kalah tentu akan dihadiahkan neraka. Karena itulah, seharusnya apapun yang terjadi di dalam permainan takwa ini dapat dinikmati dengan tanpa beban sama sekali, kala suka ia akan bersyukur dan kala duka ia akan bersabar. Karenanyalah, apa yang dilakukan Indah itu seharusnya tidak perlu terjadi. Coba aja loe pikir, untuk apa ngerasa begitu kehilangan dan berputus asa terhadap sesuatu yang cuma bagian dari permainan. Seandainya Indah menyadari kalau elo itu cuma karakter semu, juga perkara cintanya yang juga semu, dan semua apapun yang dimilikinya adalah semu. Tentulah dia bisa menikmati permainan yang diciptakan Allah SWT ini dengan sebaik-baiknya, yaitu berusaha meraih kemenangan dengan cara bertakwa kepada Allah SWT. Karenanyalah, sebagai gamer sejati seharusnya dia itu berusaha untuk menang, yaitu dengan mengumpulkan point pahala sebanyak mungkin.
Perlu loe tau, Boy… Seorang gamer pemula alias masih cupu, sebetulnya bisa dengan mudah mengumpulkan point pahala sesuai dengan tingkatan levelnya. Misalkan ada seorang gamer pemula yang menemukan benda berbahaya di jalan, seperti duri, paku, beling, dan lain sebagainya. Karena khawatir bisa membahayakan gamer lain, lantas dia segera menyingkirkannya dengan niat mendapatkan pahala dari Allah SWT. Dan dari usahanya itu, tentu dia akan mendapat point pahala. Apalagi jika dia mau mengajarkan hal itu kepada temannya, tentu dia juga akan mendapat point pahala jika temannya itu mau melakukan perbuatan yang diajarkannya itu. Dan jika temannya itu mengajarkannya lagi kepada temannya yang lain, dan temannya itu juga melakukan perbuatan baik itu, maka dia akan mendapatkan point pahala yang sama seperti orang itu. Itulah yang dinamakan investasi ilmu, layaknya matrix MLM saja. Intinya adalah, semua perbuatan baik yang dilakukan dan diniatkan semata-mata mendapat pahala dari Allah, maka ia akan mendapatkan point pahala. Baik itu perbuatan ringan hingga sampai ke perbuatan yang mengorbankan jiwa raga. Begitupun dengan perbuatan jahat, akan mendapat point dosa, apalagi jika sampai mengajarkannya kepada orang lain, maka dia udah berinvestasi ilmu untuk meningkatkan point dosanya. Misalkan ada seorang artis yang mempertontonkan auratnya, lantas dia dicontoh oleh seorang penggemarnya. Dan setiap kali si penggemar mempertontonkan auratnya, maka si artis akan mendapatkan point dosa sama seperti yang didapatkan oleh penggemarnya. Sebab, secara enggak langsung si artis udah mengajarkan hal itu kepada para penggemarnya. Beruntung jika si artis mau segera bertobat, sehingga investasi dosanya bisa segera terhapus. Kalo enggak, bisa-bisa tuh point dosa terus mengalir tanpa dia sadari. Rugi banget kan?

Al Baqarah 261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[166]. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain. (Sedangkan Ilmu adalah harta yang tak ternilai harganya).

Bukhari Muslim 448 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas'ud r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara iaitu terhadap seseorang yang dikurniakan oleh Allah harta kekayaan tapi dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaatkannya (dengan kebenaran) serta mengajarkannya kepada orang lain.

Karenanyalah, hanya gamer bodohlah yang memainkan permainan dengan tidak serius alis cuma main-main, dia tidak mau mengumpulkan point pahala tapi justru mengumpulkan point dosa yang justru bisa membuatnya kalah. Gamer sejati adalah gamer yang produktif yang gak mau menyia-nyiakan waktunya begitu aja. Dengan penuh semangat dia akan berusaha mengumpulkan point pahala sesuai dengan tingkatan levelnya.

Al Baqarah 148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al An'aam 70. Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama[485] mereka sebagai main-main dan senda gurau[486], dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.
[485]. Yakni agama Islam yang disuruh mereka mematuhinya dengan sungguh-sungguh.
[486]. Arti menjadikan agama sebagai main-main dan senda gurau ialah memperolokkan agama itu mengerjakan perintah-perintah dan menjauhi laranganNya dengan dasar main-main dan tidak sungguh-sungguh.


Karenanyalah, gamer sejati akan berusaha untuk mengumpulkan point pahala dengan bersungguh-sungguh, baik dengan jalan ibadah ritual (menjalin hubungan dengan Allah SWT), maupun secara sosial (menjalin hubungan dengan sesama gamer). Dan hanya gamer yang bersahadatlah yang akan mendapat point pahala, yaitu gamer yang mengakui Allah sebagai Tuhannya, dan Muhammad SAW sebagai rasul utusan-Nya.

Al Furqaan 23. Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan[1062], lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.
[1062]. Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia Amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman.

Menurut gue, Indah itu bukanlah seorang gamer yang bodoh, tapi dia cuma enggak tau aja kalau dia itu seorang gamer. Karenanyalah dia menyangka kalau kehidupan ini benar-benar nyata, padahal hakikatnya hanyalah sebuah permainan. Sebab, hanya akhiratlah kehidupan yang sebenarnya. Untuk lebih mudah memahami ini, coba deh sekali-kali loe main game online jenis MMORPG. Bayangin kalau dunia kita adalah akhirat, dan permainan game online itu adalah dunia kita sekarang. Loe tentu akan menemukan makna sejati dari sebuah permainan. Lo bisa liat, gimana para gamer sejati begitu getolnya meningkatkan level karakternya, point demi point dikumpulkan dengan bersusah payah agar level karakternya bisa naik. Kenapa kita enggak menjadikannya seperti itu, berusaha menaikkan level karakter kita dengan mengumpulkan point pahala sebanyak mungkin. Sehingga di akhirat kelak kita bisa berbangga hati karena berhasil membuat karakter kita masuk hall of fame alias masuk di dalam urutan daftar rangking terbaik.
Nah, Boy.. karena semua ini cuma permainan, janganlah elo terlalu bersedih terhadap sesuatu yang udah terjadi, sebab semua itu emang udah jadi ketentuan Allah.

Al Hadiid 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Al Hadiid 23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
Al Hadiid 24. (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Karenanyalah, gue harap loe sekarang udah bisa lebih tenang. Indah adalah seorang muslimah, mungkin aja dia udah pernah berinvestasi ilmu yang bermanfaat, sehingga point pahala yang didapat Insya Allah bisa meringankan dosa-dosanya. Percayalah kalau Allah SWT itu Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Biarlah kita serahkan semua ini kepada-Nya, yaitu dengan berprasangka baik. Boy… kalau apa yang dilakukan Indah itu emang bukan kesalahannya semata, tentulah Allah tidak akan menghukumnya dengan semena-mena. Karenanyalah, kita enggak usah terlalu mikirin apa yang sebetulnya tidak kita ketahui, biarlah Allah saja yang menentukan semua itu menurut kebijaksanaan-Nya. Dan semoga kejadian ini bisa jadi pelajaran buat elo, agar jangan main-main lagi terhadap sesuatu yang subhat."
Usai mendengarkan penjelasan Haris yang panjang lebar itu, akhirnya Boy bisa menjadi lebih tenang. Dia pun bertekad untuk lebih giat lagi mengumpulkan point pahala, yang diyakini kelak akan meningkatkan level karakternya, kalau bisa sampai sekelas wali. Ya, itu kalau bisa… Tapi kalau memang tidak bisa alias tidak mampu, paling dia hanya akan menjadi orang awam yang baik saja. Karenanyalah, tanpa keraguan sedikit pun di hatinya, Boy pun berniat untuk segera hijrah ke Aceh demi menjalani hukumannya dan kemudian segera menikahi Lala.


Setahun kemudian, Haris tampak sedang menyaksikan berita hangat di televisi. Saat itu dia begitu prihatin menyaksikan berita tentang bom yang lagi-lagi meledak di depan sebuah club malam di Bali. Berita tentang bom bali 3 itu sungguh membuatnya tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang muslim begitu tega melakukan hal itu. "Hmm… apa sebenarnya motifasi pelaku hingga sampe nekad begitu, apa mungkin dia udah putus asa dengan keadaan sekarang yang emang sulit diperbaiki. Jika dia emang melakukan itu karena putus asa, jelas tindakannya itu adalah perbuatan bunuh diri yang dilaknat Allah. Jika dibandingkan dengan konsep bom bunuh diri yang sering terjadi di Palestina tentu aja beda banget. Orang palestina melakukan itu karena ingin membela negara, dan dia melakukan itu bukan karena putus asa, melainkan berkorban jiwa raga demi kemerdekaan, sehingga tindakan bunuh diri yang dilakukannya bukanlah bunuh diri, melainkan perjuangan guna meraih kemerdekaan. Merdeka atau syahid fisabilillah. Tapi… Jika pelaku bom bali 3 itu ternyata mempunyai motifasi memerangi kemungkaran, dan dia melakukan itu bukan karena putus asa, melainkan karena kepedulian sejatinya, apakah tindakannya itu dikategorikan bunuh diri? Entahlah… tampaknya hanya Tuhan sajalah yang tau.
Kalo gue sendiri sih gak tega ngilangin nyawa manusia yang gak tahu-menahu demi untuk tujuan yang mulia. Gue masih meyakini pemahaman yang dulu diajarin sama guru gue, yaitu selama air masih bisa buat memadamkan api sebaiknya jangan menggunakan api untuk memadamkan api. Kecuali jika air emang udah enggak mampu lagi memadamkan api, barulah api yang terkendali boleh digunakan untuk memadamkan api. Untuk saat ini, gue sendiri lebih memilih berjuang melalui perang pemikiran yang islami dan juga lewat perang kebudayaan yang islami. Insya Allah, dengan begitu orang akan tergerak hatinya untuk bersama-sama memperbaiki sistem pemerintahan di negeri ini menjadi lebih baik.
Bukankah kita ini bangsa yang berdemokrasi dan menjunjung tinggi HAM? Tapi, kenapa umat muslim yang jumlahnya mayoritas tidak diberikan haknya untuk bisa sepenuhnya melaksanakan keyakinannya, yaitu bisa menjalankan ajaran agamanya dengan secara total? Sungguh… sungguh… sungguh… mengherankan… Tanya kenapaaa?"
Haris terus mengikuti perkembangan berita itu, hingga akhirnya dia terhenyak ketika melihat tayangan si pelaku dan beberapa orang korban yang sebelumnya sempat terekam oleh kamera jarak jauh seorang wisatawan. "Bo-Boy…" ucap Haris dengan air mata yang tiba-tiba saja meleleh. Sungguh pemuda itu tidak menyangka kalau sahabatnya harus menemui ajal dengan cara yang mengenaskan seperti itu.
Siapa sebetulnya yang patut disalahkan atas terjadinya peristiwa itu? Pelakunyakah, organisasinyakah, rakyat negeri inikah, atau pemerintah negeri ini? Mungkin yang patut disalahkan adalah pemerintah dan rakyat negeri ini, sebab bom itu adalah dampak dari ketidakmampuan pemerintah dan rakyat ini dalam menegakkan kebenaran. Wallahu alam…



Selesai…

CINTA BUTA SANG PENULIS MUDA 4




===================================================


Bagian IV


Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin" Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin" Tekek…! "Kaya" Tekek…! "Miskin," ucap Boy dalam hati seraya berharap sang Tokek bersuara kembali. Namun setelah di tunggu, ternyata sang Tokek tak jua bersuara. "Wedew… Kok gak bunyi lagi sih," kata Boy cemas. "Ayo dong, Tokek! Bunyi sekali lagi aja, please…!" pinta Boy berharap.
Mendengar itu, sang Tokek tetap bungkam. Maklumlah, saat itu dia mengira si Boy justru menyuruhnya diam. Padahal, semula dia sudah mau bersuara sekali lagi.
"Duuuh… kok miskin sih? Dasar tokek sialan," maki Boy dalam hati. "Ah, gua gak mo percaya sama yang begitu-gitu. Emangnya Tokek yang nentuin gua kayak apa enggak. Kalo gua sampe percaya, sama aja gua udah nyekutuin Tuhan."
Begitulah Boy, dengan mudahnya dia bisa menghilangkan rasa tidak enak di hatinya dengan langsung mengingat Tuhan. Andai saja tadi si Tokek bersuara sesuai dengan keinginannya, tentu dia tidak akan bicara begitu, dia pasti akan senang dan mempercayai mitos itu begitu saja. Padahal, dia tahu kalau percaya dengan hal yang seperti itu adalah syirik. Seperti halnya juga ketika dia percaya atau tidak percaya dengan ramalan bintang, jika zodiaknya sedang diramalkan jelek dia pasti tidak mau percaya, tapi kalau zodiaknya itu sedang diramalkan bagus dia pasti langsung senang tanpa perlu mengkhawatirkan macam-macam.
"Hah, udah jam segitu," kata Boy terkejut ketika melihat jam di komputernya sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. "Gawat… besok pagi gua kan harus nganter Indah. Kalo sampe begadang lagi, dia pasti ngambek lantaran gua gak tepat waktu. Tapi, cerpen yang lagi gua tulis ini harus selesai sekarang juga, sebab besok kan udah hari terakhir. Kalo gak buru-buru dikirim bisa gawat. Duuh… gimana ya?" tanya Boy seraya berpikir keras. "Ah, masa bodolah. Biarin aja Indah ngambek, minta putus juga gak apa-apa, yang penting gua bisa ikutan lomba. Lagi pula, mana berani dia mutusin gua, calon mantu kesayangan ortunya. Kalo dia mutusin gua, itu artinya dia harus mau dikawinin sama lelaki beristri tiga itu." 
Setelah berpikir begitu, Boy pun kembali melanjutkan cerpennya yang tinggal sedikit. Dan setelah menyelesaikan halaman terakhir, pemuda itu segera melakukan pengeditan. Hingga akhirnya dia bisa menyelesaikan cerpen itu ketika azan subuh sudah berkumandang. "Huff… Beres," kata Boy lega seraya merenggangkan persendiannya yang terasa kaku. Setelah menyimpan cerpennya ke dalam flash disk, pemuda itu lantas mematikan komputernya. Kini dia sedang berkaca, memperhatikan air mukanya yang tampak lusuh. Sejenak diperhatikannya bola matanya yang memerah karena lelah, juga sehelai uban yang tumbuh di kepalanya. "Duh, uban lagi…" keluhnya seraya mencabut uban itu hingga ke akarnya. Diperhatikannya uban itu dengan penuh kecemasan, menyadari kalau dirinya sudah semakin bertambah usia. Begitulah Boy, suka sekali mendramatisasi sesuatu yang sebetulnya normal dan wajar-wajar saja menjadi sesuatu yang mencemaskannya. Maklumlah, setiap kali dia menemukan uban di kepalanya, dia langsung menghubungkan dengan umurnya yang dirasa terus berkurang. Di mana kesempatan untuk hidup normal di dunia ini hanya tinggal beberapa puluh tahun lagi, dan itu juga berdasarkan hitungan untuk orang yang betul-betul menjaga kesehatan. Sedang dia, yang selama ini hidup tidak sehat tentu akan lebih cepat dari itu. Pada ulang kemarinnya saja, dia sempat sedih. Padahal, teman sebayanya yang juga berulang tahun justru merayakannya dengan penuh kegembiraan, bahkan teman-temannya yang mengaku mencintainya pun turut berbahagia dengan menceplokkan telor dan manaburkan terigu di atas kepalanya. Dan teman-temannya yang tidak ngeh terhadap nasib orang lain yang sedang kelaparan itu kemudian ditraktir makan di sebuah restoran cepat saji. Maklumlah, teman Boy itu memang seorang pemuda yang baik dan seakan tak punya dosa. Sedangkan Boy, yang justru merasa sering berbuat dosa betul-betul merasa tidak pantas untuk merayakannya, apalagi dengan cara seperti itu. Dia lebih suka merenungi perjalanan hidupnya yang kebanyakan telah disia-siakan dan bertekad untuk bisa memperbaikinya di rentang sisa umurnya kini. 
"Duhai Allah… Aku betul-betul cemas. Apakah dengan umur yang tinggal sedikit ini aku mampu mempersiapkan bekal untuk di akhirat nanti? Sedangkan hingga hari ini, aku belum juga menyiapkan investasi anak yang shaleh walau seorang pun, yang kelak sangat kuharapkan bisa menolongku seandainya Engkau memanggilku di dalam kekurangan. Duhai Allah… Haruskah aku mengaku pada Indah kalau sebenarnya aku telah mencintainya, dan mengakui kalau selama tiga bulan ini aku tidak pernah menganggapnya sebagai pacar boongan? Namun, hingga kini aku masih ragu. Apakah kelak aku bisa hidup bahagia bersamanya, bersama wanita yang belum baik agamanya itu? Duhai Allah… berilah aku petunjuk-Mu… Amin…" ucap Boy seraya melangkah untuk bersuci. 
Pada saat yang sama, di sebuah kamar yang tertata rapi. Lala tampak sedang menunaikan sholat Subuh. Usai sholat, wanita itu tampak duduk bersimpuh memohon kepada Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lama wanita itu bersimpuh, memohon dengan linangan air mata, bahkan hingga bias cahaya mentari menerobos masuk kamarnya dia masih juga belum bergeming. "Duhai Allah… setelah kumencoba merenungi perjalanan hidupku, setelah kumencoba untuk menggali hikmah yang tersembunyi, dan setelah kumencoba menyelami rahasia takdir-Mu. Kini aku mulai bisa memahami, kalau sebenarnya aku hanyalah secuil media-Mu guna menguak keberadaan-Mu, menguak sedikit ilmu-Mu, dan menguak tabir penciptaan atas semua makhluk ciptaan-Mu. Duhai Allah… Berilah aku kekuatan, berilah aku ketabahan, dan berilah aku kesabaran untuk menjalani semua takdir-Mu. Amin…," ucap Lala seraya bersiap-siap untuk kembali menghadap Tuhannya.
Di kediaman Boy, dering telepon terdengar berkali-kali. Saat itu, Boy yang baru saja ngelayap tampak jengkel dibuatnya. "Duuh, brengsek… siapa sih yang nelepon pagi-pagi begini," keluh Boy seraya melangkah ke ruang tengah. "Waalaikum… iya ini aku sendiri. Siapa ya?"
"Ini aku, Boy… Indah. Eng, Kamu baru bangun tidur ya?"
"Baru bangun tidur jidad lu jenong. Gua tuh lagi ngelayap mo tidur. Gara-hara lu pala gua jadi pusing nih,"
"Apa??? Baru mo tidur. Kamu ini gimana sih, katanya mo nganterin aku ke rumah Om Rahman. Kok malah mo tidur sih."
"Gua semalam begadang, In. Jadi sekarang gua ngantuk banget. Gua jemput lu pukul 9.00 aja ya?"
"Apa??? Pukul sembilan. Kamu itu gimana sih, Boy. Sepupuku kan nikahnya pukul sembilan, masak sih kita berangkat pukul sembilan. Pokoknya aku gak mo tau. Biar gimana juga, kamu harus sudah sampai di rumahku pukul delapan."
"Duuh, In… lu tuh gak pengertian banget sih. Gua tuh ngantuk banget. Apa lu seneng kalo gua masuk rumah sakit gara-gara gak konsen bawa motor?"
"Kamu tuh yang udah gak pengertian dan gak bertanggung jawab. Udah tau pagi-pagi kudu nganter aku, eh kamunya malah begadang. Dasar…"
"In, lu nyadar gak sih kalau gua tuh cuma pacar boongan lu? Lu tuh gak usah nuntut seolah gua ini pacar beneran lu!"
"Tapi, Boy… kamu kan udah janji."
"Janji…? Waktu itu kan aku bilang Insya Allah…"
"Boy… kata Lala, Insya Allah itu 99% janji."
"Iya, gua juga tau…" saat itu Boy langsung menceritakan perihal cerpen yang harus segera diselesaikannya.
"Ya udah kalo emang begitu, biar aku brangkat sendiri aja."
"Ngambeeeek…"
"Au ah lap… tidur lagi aja sana biar puas!"
Prekkk!!! Tut,,, Tut…. Tut…
"Duh, Indah betulan ngambek. Heran… padahal selama ini dia cuma nganggap gua pacar boongan, tapi kalo gua rasa-rasa… kayaknya gak begitu. Bahkan setiap kali gua pengen tau soal cowok pujaan rahasianya, dia tuh selalu berusaha berkelit. Seolah-olah dia emang gak mampu nunjukin ke gua kalo cowok itu emang betul-betul ada. Hmm… jika dugaan gua bener. Berarti…" Entah kenapa, tiba-tiba saja mata Boy yang semula ngantuk mendadak segar kembali. Saat itu juga dia buru-buru mandi dan berdandan dengan sangat rapi, kemudian dengan terburu-buru pula dia segera memacu sepeda motornya. Dan setengah jam kemudian, akhirnya dia tiba di rumah Indah dengan selamat. 
"Assalam…!" ucap Boy seraya mengetuk pintu rumah Indah.
Tak lama kemudian. "Bo-Boy… ka-kamu mo datang juga," kata Indah hampir tak mempercayainya.
"Habis… ambekan lu tadi udah bikin gua jadi kepikiran. Jadi, kepaksa deh gua dateng juga. O ya, ngomong-ngomong bonyok pada ke mana, kok sepi?"
"Boy, kok kamu pikun sih. Kan aku udah bilang, kalo mereka udah berangkat duluan. Mereka tuh udah dari kemarin menginap di rumahnya On Rahman. Kalo mereka masih di sini, ngapain juga aku minta di anterin sama kamu. Mending ikut bonyok naik mobil ketimbang harus naik motor sama kamu. O ya, Boy. Sebetulnya tadi tuh aku sempet bingung, soalnya aku gak tau anggutan umum yang ke sana. Tapi untunglah, akhirnya kamu mo datang juga. Kalo enggak, gak tau deh gimana aku sampai ke sana."
"O… pantes tadi lu di telepon marah banget. Ya udah, kalo gitu ayo kita berangkat skarang."
"Sebentar ya, Boy," kata Indah seraya melangkah masuk. Dan tak lama kemudian, gadis itu sudah kembali dengan menenteng sebuah tas kecil merah jambu. "Yuk, Boy!" ajaknya kemudian.
Kini kedua muda-mudi itu sudah dalam perjalanan, saat itu Indah tampak memeluk pinggang Boy dengan erat sekali. Secara naluri, Boy betul-betul senang dengan perlakuan Indah yang demikian, namun di lain sisi batinnya justru merasa tersiksa. Sepertinya dia memang harus segera menikahi Indah, sebab kalau tidak dia khawatir dirinya akan kian terlena oleh kelezatan semu yang sebetulnya hanya sementara.

Malam harinya sekitar pukul delapan, Boy dan Indah sudah kembali pulang. Kini mereka sedang berbincang-bincang di ruang tamu rumah Indah yang terasa sangat nyaman. Seperti itulah yang biasa mereka lakukan dalam rangka pacaran boongan¾menunjukkan kepada orang tua Indah kalau mereka itu memang betul-betul pacaran. Ya ngobrol berdua, saling tukar pikiran, dan terkadang saling berpandangan. Namun, malam ini agak sedikit berbeda. Orang tua Indah yang masih menginap di rumah Om Rahman membuat Indah berani sekali duduk dekat Boy. Padahal, biasanya mereka duduk saling berjauhan, dan dalam pengawasan orang tua. Maklumlah, orang tua Indah termasuk orang yang taat agama dan cukup moderat, mereka tidak melarang anaknya pacaran asal dengan catatan, hubungan itu serius dan akan dibawa ke jenjang pernikahan, tidak berduaan di tempat sepi, apalagi kalau sampai duduk saling berdekatan dan berpegangan tangan, mereka sangat melarang keras. Orang tua Indah percaya, hukum pacaran pada dasarnya boleh, namun sewaktu-waktu bisa berubah menjadi haram jika sudah mengarah ke perzinahan. Kata orang tua Indah, sebetulnya pacaran itu adalah latihan jatuh cinta, latihan memahami sifat dan karakter orang lain, dan latihan menganggap lawan jenis adalah teman yang menyenangkan. Dan perkara seperti itu sangat baik untuk perkembangan jiwa, sehingga lelaki dan perempuan bisa memahami kodratnya masing-masing secara alamiah. Pacaran juga bisa mendongkrak kecerdasan emosional, sebab ketika berpacaran akan timbul berbagai kejadian yang bisa memicu terjadinya hubungan emosional, yang jika disikapi dengan benar akan meningkatkan kecerdasan emosional itu sendiri. Dan masih banyak lagi sebetulnya hal positif yang bisa dipetik dari pacaran yang bertanggung jawab. Begitulah kedua orang tua Indah mempunyai pemikiran sehingga mereka tak mau bersikap terlalu ketat.
"Boy.. di sekitar mata kamu kok kotor banget sih. Aku bersihin ya," kata Indah seraya mengambil tissue dan membersihkan kotoran yang melekat akibat dari perjalan bermotor tadi. Bukan hanya sekitar mata, tapi juga seluruh wajah dan bahkan sampai ke lehernya. Diperlakukan begitu, Boy pun merasa betul-betul diperhatikan. Usapan lembut di wajahnya terasa betul-betul meresap ke jiwa, bahkan dia kian terlena ketika jemari Indah menyiap sebagian rambutnya, yang dirasakan seperti membelai dengan penuh kasih sayang.
"Nah, skarang kamu udah gak rebek lagi, Boy…" kata indah seraya tersenyum tipis.
"Sekitar mata lu juga kotor, In. Gua bersihin juga ya," kata Boy seraya mengambil tissue dan mulai membersihkan wajah Indah sama persis seperti yang telah dilakukan Indah tadi. 
Saat membersihkan itulah Boy bisa memperhatikan setiap bagian wajah Indah dengan lebih seksama. Keduanya alisnya yang hitam dan tipis, matanya yang bening, hidungnya yang mancung, bibirnya yang bak delima merekah, dan lain sebagainya. Pokoknya setiap bagian wajah Indah diperhatikan dengan begitu seksama, dan dari jarak yang begitu dekatnya, tampak halus dan mulus, sampai-sampai urat kebiruan yang ada dagunya pun terlihat dengan begitu jelas. Pada saat yang sama, Indah pun sedang memperhatikan wajah Boy. Saat itu diperhatikannya beberapa bekas luka kecil yang semakin memperkuat karakter Boy sebagai seorang lelaki yang pemberani, kemudian dilanjutkan dengan memperhatikan bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, dan kedua bola matanya yang bening, yang saat itu sedang menari-nari memperhatikan setiap bagian wajahnya, di atas kedua mata itu tampak alis Boy yang tebal dan hitam pekat. Ketika pandangan Indah kembali memperhatikan mata Boy, saat itulah mereka saling berpadangan. Dan seketika itu pula keduanya merasakan sensasi berjuta rasa, penuh dengan nuansa keindahan dan juga kebahagiaan, bagai menyaksikan panorama indah di atas hamparan bunga yang harum semerbak sambil menikmati lezatnya makanan yang mengundang selera, juga penuh dengan hasrat bergelora yang bak beat techno ajeb ajeb. Sungguh, saat itu naluri primitif keduanya seakan tak bisa di cegah, menuntut gejolak dan dorongan biologis agar segera diberikan haknya. Kian lama, tuntutan itu semakin menggila, membuat keduanya kian terlena dan akhirnya melupakan norma yang ada. 
"Boy… kamu kenapa?" tanya Indah yang melihat Boy tertunduk dengan kedua tangan yang meremas-remas rambutnya.
"In… Akhirnya yang gua takutin kejadian juga. Sungguh, gua betul-betul nyesel udah ngikutin kemauan elo."
"Boy… barusan kan kita cuma ciuman. Kamu tuh gak perlu nyesel kayak gitu. Ciuman itu kan hal yang wajar, Boy… Sebuah ungkapan kalau kita emang saling mencintai."
"Saling mencintai…?"
"Iya, Boy… kamu tuh gak usah boong, kalo sebenarnya kamu mencintai aku, iya kan? Ngaku aja, Boy! Sebab, aku bisa ngerasain itu ketika ciuman tadi. Sungguh, ciuman kamu itu bukanlah ciuman nafsu seorang lelaki semata, namun juga ciuman yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang."
"In, lu betul kalau gua emang cinta sama lu. Dan skarang pun gua udah semakin yakin kalo kita emang saling mencintai. Tapi sayangnya, cita kita itu cinta buta."
"Cinta buta, Boy?"
"Ya, kita saling mencintai karena cinta buta. Sebab, cinta sejati adalah atas dasar cinta kita kepada Tuhan. Jika itu emang cinta sejati, enggak mungkin kita mau menodainya dengan perbuatan yang justru di benci Tuhan. Barusan kita udah berani ciuman tanpa ikatan suci yang semestinya. Ketahuilah In, kalau cinta buta adalah peluang syetan untuk menjerumuskan kita. Karena itulah, jika lu emang betul-betul cinta sama gua, sebaiknya kita segera kawin. Semoga dengan begitu, cinta kita yang semula karena cinta buta bisa berubah menjadi cinta sejati."
"Ta-tapi, Boy… aku belum siap berumah tangga. Kamu sendiri aja belum punya kerjaan tetap, apa nantinya kita akan hidup bahagia, Boy?"
"Kini semua terserah pada putusan lu, In. Pokoknya yang jelas, gua gak mau kalo sampe kejadian masa lalu yang menimpa gua terulang lagi. Soalnya, dulu ketika gua punya pacar, setiap hari selalu bergelut dengan dosa. Ciuman, pelukan, dan bermanja-manja tanpa ada yang menghalangi. Bila enggak ngelakuin itu, kepala gua bisa pusing tujuh keliling, suntuk, bete, dan masih banyak lagi. Rasanya emang susah banget buat keluar dari candu yang begitu membuai. Terus terang, manusia kayak gua emang susah banget pacaran tanpa ngelakuin itu, perbuatan yang emang udah bagaikan candu. Apalagi saat itu cewek gua selalu ngasih kesempatan, alhasil syetan pun berhasil membuat kami terpedaya, dan akhirnya lu tau sendiri kan."
"Iya, Boy… emang susah banget buat ngungkapin rasa cinta dan sayang kita tanpa ngelakuin perbuatan kayak begitu. Kalo kedua belah pihak gak mampu lagi nahan diri, bisa-bisa… ya bakal kecebur juga."
"Karena itulah, In. Gua harap lu mau nerima lamaran gua. Dan lu gak perlu khawatir kalo kita gak akan bahagia. Percayalah, In…! Kalo kita emang berniat baik, Insya Allah… Tuhan tentu akan ngasih jalan buat kita."
"Tapi Boy, aku belum siap jadi seorang ibu. Kamu tau kan, ngurus anak itu gak gampang."
"In, perlu lu tau. Banyak perempuan awalnya juga ngerasa begitu. Namun karena mereka berani mencoba, pada akhirnya mereka bisa juga menjadi seorang ibu yang baik. Karena itulah, jika lu emang mau belajar dari teori yang ada, mau belajar dari pengalaman orang lain, dan juga mau belajar dari pengalaman lu sendiri, Isya Allah suatu saat nanti lu juga bakal menjadi seorang ibu yang baik."
"Tapi, Boy…"
"Udah ah, gua gak mau denger alasan lu lagi. Pokoknya apa pun itu, gak akan bisa ngerubah keputusan gua. Skarang gua kasih waktu seminggu buat lu mikir, jika udah jatoh tempo lu belon juga ngasih jawaban terpaksa kita putus."
Saat itu Indah cuma bisa menangis, mengeluarkan senjata andalannya yang selama ini selalu berhasil membuat Boy mengalah. "Duuuh, lu jangan nangis dong, In!"
"Abis… aku gak tau lagi gimana caranya supaya kamu bisa ngertiin aku," kata Indah terisak. 
Saat itu, Boy ingin sekali mendekapnya, membelainya, dan menciumnya dengan penuh kasih sayang. Namun karena saat itu dia masih mampu mempertahankan jubah keimanannya, niat itu pun segera diurungkan. "Oke.. oke… lupaian aja ultimatum gua barusan. Tapi, lu harus janji… gak akan pernah lagi ngasih kesempatan sama gua buat ngelakuin hal kayak tadi. Mulai sekarang kita harus bertekad untuk pacaran dengan penuh tanggung jawab, dan jika kita sampe ngelakuin perbuatan yang mendekati zinah, kita harus segera kawin. Gimana…?"
Mengetahui itu, Indah segera mengangguk, saat itu jelas sekali tampak pada wajahnya sebuah ekspresi kegembiraan yang amat sangat. Melihat itu, lagi-lagi di dalam diri Boy timbul dorongan yang begitu kuat. Saat itu dia ingin sekali menghapus air mata Indah yang masih saja meleleh, kemudian mencium keningnya mesra, dan segera mendekapnya penuh kehangatan. Namun, lagi-lagi Boy berhasil menghalau dorongan itu. "Nah, kalo gitu udah dong nangisnya…!" pinta Boy dengan nada lembut.
Saat itu juga Indah langsung menghapus air matanya, kemudian mencoba untuk tersenyum manis.
"In… gua pulang sekarang ya, soalnya udah malem nih."
"Boy, sebaiknya kamu nginap aja!"
"Apa? Nginap...?"
"Bukan apa-apa, Boy… Soalnya bahaya pulang malam-malam begini. Apa lagi belum lama ini ada kejadian perampasan sepeda motor, dan korbannya tewas dengan cara yang amat tragis. Boy… terus terang aku betul-betul khawatir kalo hal itu juga akan menimpa kamu."
"Gak, In… sekali enggak tetap enggak. Mengertilah, In… gua tuh gak mau membuka peluang kepada syetan untuk menjerumuskan kita, walau apa pun alasannya. Lebih baik gua mati ketimbang harus membuka peluang kepada syetan. Udalah In… lu tuh gak perlu khawatir, mending lu doain gua agar bisa tiba di rumah dengan selamat. Insya Allah… dengan begitu Tuhan akan selalu ngelindungin gua. Udah ya, In. gua pulang," kata Boy seraya beranjak menuju menuju ke sepeda motornya. Pada saat yang sama, Indah tampak melangkah untuk membukakan pintu gerbang.
"Bye, In… Assalam…"
"Walaikum…," ucap Indah seraya memperhatikan kepergian Boy.
Lama juga gadis itu mematung di depan gerbang rumahnya, merasa begitu kehilangan orang yang dicintainya. Apalagi jika dia mengingat saat berciuman tadi, sungguh dia sangat merindukan Boy agar senantiasa bisa berada di sisinya.


Esok siangnya, setelah mentari bergulir ke barat. Boy tampak sedang bersantai di depan rumahnya. Duduk di kursi teras, memandangi seekor kupu-kupu raja yang sedang memamerkan keindahan sayapnya, bertengger di atas sehelai daun sirsak yang tumbuh di halaman rumah. Sambil terus memandangi keindahan itu, pikiran Boy terus melayang--mengingat kembali kejadian semalam yang kini membuatnya betul-betul tidak nyaman. Bagaimana tidak, setiap kali dia teringat akan hal itu, setiap kali itu pula dia ingin mengulanginya lagi dan lagi. 
"Duhai Allah… hilangkanlah segala pikiran sesat yang ada di kepalaku ini, sungguh kini aku telah kembali terjerat oleh cinta yang membutakan. Duhai Allah… lindungilah aku dari cinta buta ini, cinta yang seharusnya tidak aku jalani. Sungguh aku tak mengira, kalau kesombonganku akan keimanan ternyata telah membuatku terjerumus ke dalam perangkap syetan. Semula kupikir aku mampu mengendalikan diri, namun ternyata aku masih begitu mudahnya melepaskan baju keimananku. Duhai Allah… bagaimana caranya agar aku bisa melepaskan diri dari cinta buta ini? Sedangkan kini aku tak kuasa lagi untuk menyakiti perasaan orang yang begitu aku cintai, orang yang begitu aku sayangi. Duhai Allah… aku betul-betul mengkhawatirkan hal ini. Bagaimana jika kekasihku itu tak mampu lagi menepati janjinya, bagaimana jika dia terus diperalat oleh syetan untuk memperdayaiku. Sungguh… hanya pertolongan-Mu-lah yang bisa menyelamatkan aku. Duhai Allah… Berilah aku petunjuk-Mu, berilah aku kekuatan untuk berani mengambil sikap, dan berilah aku kemampuan untuk selalu berada di jalan-Mu. Amin…"
"Assalam…!" ucap seseorang tiba-tiba.
Boy yang mendengar ucapan itu spontan menjawab dan segera melempar pandangannya ke asal suara. "Hmm… mo apa orang munafik itu datang kemari? Dasar manusia gak berperasaan, tega-teganya dia membuka aib saudaranya sendiri," gerutu Boy dalam hati seraya menghampiri orang itu dan segera membukakan pintu gerbang untuknya.
"Ahlan wa sahlan, Boy…" sapa orang itu meyindir seraya mengajak Boy cipika-cipiki. "Maapin gue ya, Boy. Kalo selama ini gue udah gak mo nemuin lo lagi," ucap orang itu tulus seraya melepaskan pelukannya.
Setelah di perlakukan begitu, hati Boy yang semula panas membara entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi begitu sejuk. Pada saat itu dia betul-betul merasakan kalau orang itu adalah sahabatnya yang baik dan tak sepantasnya jika dia sampai membencinya. "Udalah, Ris. Gua paham kok, lu bisa sampe tega ngebongkar kartu gua sama Lala itu karena lu khilaf. Iya kan?" 
"Apa, Boy? Gue ngebongkar kartu elo. Kartu yang mana? Perasaan selama ini gue gak pernah buka kartu elo sama Lala," jelas Haris dengan kening berkerut.
"Ja-jadi bukan lu yang ngomong ke Lala kalo gua udah gak suci lagi?"
"Astagfirullah…! Boy… Boy… Perlu elo tau, biarpun selama ini gue kesel sama elo, tapi gue gak akan pernah mo buka aib elo. Sebab kalo gue sampe ngelakui itu, sama juga dengan ngebuka aib gue sendiri."
"Hmm… kalo emang bukan lu. Jadi, siapa dong? Kan cuma lu yang tau semua rahasia gua."
"Demi Allah, Boy… ngapain sih gue boong."
Mendengar itu, Boy langsung percaya. Sungguh saat itu dia tidak berani meragukan orang yang sudah bersumpah atas nama Tuhan. "Baiklah, Ris. Gua percaya, ternyata emang bukan lu orangnya. Kalo bukan lu itu artinya…"
"Artinya apa, Boy?"
"Itu artinya gua sendiri yang udah ngaku ke dia."
"Aneh… kok bisa begitu?"
"Gak aneh, Ris. Sebab, waktu itu gua pasti salah tangkep omongan Lala. Gua pikir dia udah tau kalo gua udah gak suci lagi, tapi ternyata…" Saat itu Boy langsung mengajak Haris duduk di kursi teras dan segera menceritakan kejadian ketika dia bertemu dengan Lala waktu itu.
"Be-berarti, La-Lala udah gak suci lagi?" tanya Haris dengan air muka yang tampak prihatin. 
"Ya, kini gua yakin banget. Sebab, rasanya emang gak mungkin jika dia masih suci sampai bicara begitu. Sungguh, gua bener-bener gak nyangka kalo tokoh utama yang ada di cerita si Lala itu ternyata dia sendiri. O ya, Ris. Ngomong-ngomong, lu mo minum apa. Kopi apa teh?"
"Gak usah repot-repot, Boy. Air bening aja," jawab Haris yang kini sudah terlatih untuk tidak salah kaprah. Maklumlah, dulu dia juga pernah bernasib seperti Indah, berhasil dikerjai oleh Boy. Namun saat itu Haris tak seberuntung Indah, waktu dia sempat disediakan air tajin¾bekas cucian beras Ibunya Boy. 
Tak lama kemudian, Boy sudah melangkah ke belakang. Dan setelah menyediakan air bening untuk Haris, mereka pun segera kembali berbincang-bincang. Mereka terus berbincang-bincang seputar realita kehidupan, hingga akhirnya mereka kembali terjerat di dalam perdebatan yang tak sehat. Perdebatan yang kini sudah membuat hati keduanya mengeras seperti batu, tak ada yang mau mengalah, tetap kekeh mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sama persis seperti yang sudah mereka lakukan beberapa bulan yang lalu, yang membuat keduanya terpaksa jadi marahan. 
"Boy, lo tuh keras kepala banget sih. Udah jelas hukuman sebat 100 kali dan diasingkan selama setahun itu gak perlu lulakuin. Sebab, waktu itu lu belum mengerti perihal hukuman itu. Dan menurut gue, tobatan nasuha yang udah lu lakuin itu lebih dari cukup. Lagi pula, siapa coba yang pantes buat mengeksekusinya," kata Haris seraya mengeluarkan dalil yang menguatkan pendapatnya.
Boy pun tidak mau kalah, dia segera mengeluarkan dalil yang juga menguatkan pendapatnya, yaitu hadits perihal pelayan yang berzinah dengan majikannya. "Perlu lu tau, Ris. Dalam hadits itu, anak yang berzina itu juga enggak tau perihal hukuman sebat. Jangankan anak itu, orang tuanya aja juga enggak tau. Tapi, pada kenyataanya anak itu tetap harus menjalani hukumannya. Dan saat itu jelas sekali bahwa enggak ada hal lain yang bisa ngebayarnya, buktinya seratus ekor kambing dan hamba perempuan itu harus dibalikin." 
Mengetahui itu, Haris pun segera menyerang balik dengan dalil dan argumen yang lebih jitu. Dan lagi-lagi Boy kembali menyerangnya dengan dalil dan argumen yang tak kalah jitu. Hingga akhirnya, "Cukup Ris. Dari tadi kayak lu cuma muter-muter aja. Lu itu emang udah jadi syetan, Ris."
"Apa, Boy??? Gue syetan. Eh, Boy… denger ya. Justru saat ini elo udah terpedaya sama syetan. Karena itulah elo masih aja ngotot dengan pendapat loe yang dangkal itu, dan sekarang malah menuduh gue sebagai syetan."
"Emang begitu kenyataannya, lu itu emang syetan yang berusaha mempengaruhi gua agar gak ngejalanin hukuman itu."
"Cukup, Boy. Lo itu emang teka dan udah bikin gue betul-betul jengkel. Males sebetulnya gue debat sama loe."
"ya udah, kalo emang begitu. Gua juga udah males denger omongan lu lagi. Udalah, mending sekarang lu pulang aja! Dari pada nantinya lu gua bikin babak belur," usir Boy dengan raut wajah yang menampakkan kemarahannya.
"Astagfirullah…!" ucap Haris tiba-tiba, berusaha meredam gejolak amarah yang kini sedang meledak-ledak. "Boy… maapin gue ya kalo kata-kata gue tadi udah menyinggung perasaan elo. Sungguh gue gak nyangka, kalo niat gue yang mau ngebantu elo supaya gak terlalu mikirin soal hukuman itu, ternyata justru bikin loe semakin berkeras. Boy… kini gua gak akan ngalangin niat loe itu lagi. Percayalah, Boy… kini gua sadar, kalau sebetulnya gue gak pantes nentuin keyakinan loe itu bener apa enggak. Wallahu alam… Kini gue gak mo debat masalah itu lagi. Biar semuanya gue kembaliin sama diri loe sendiri, terserah gimana menurut keyakinan loe."
Mengetahui semua itu, hati Boy pun seketika dingin kembali. Sungguh dia tidak menyangka kalau Haris ternyata mampu mengendalikan dirinya, dan hal itu sungguh membuatnya Boy menjadi iri. "Gua betul-betul salut dan iri sama lu, Ris. Ternyata… skarang lu udah bebeberapa langkah lebih maju dari gua."
"Udalah Boy, itu karena gue lagi berusaha supaya gak jadi orang yang sok tau. Terus terang, gue gak mau jika sampe maksain nilai kemanusiaan gue pada orang lain. Sebab gue sadar, kalo manusia itu cuma wajib nyampein kebenaran dan harus belajar hidup dari kesalahan dan kekurangan manusia lain. Ketahuilah, bahwa setiap menusia itu punya pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. Karenanya itulah, gue berusaha buat menghormatinya. Dan gue juga akan selalu berusaha enggak benci sama orang yang berbeda pendapat sama gue, namun gue justru harus mencintainya dengan segala kepedulian sejati gue, walaupun itu bisa aja membuat hati gue miris. Pokoknya, selama gue udah bisa nyampein pendapat gue, itu udah lebih dari cukup. Kini gue udah sepenuhnya menyadari kalo kehidupan gue di dunia ini adalah untuk mengenal Tuhan dan menghamba pada-Nya. Bukan buat menghakimi manusia lain yang gue sendiri gak mungkin tau tujuan dan pola pikirnya. Sebab, hanya Tuhanlah, Zat yang Maha Tahu Segalanya. Biarlah Tuhan aja yang jadi hakim mutlak, yang pantes nentuin salah benernya seseorang. Sebab, jika gue sampe menghakimi manusia lain, apalagi sampai membencinya, itu berarti gue udah ngerusak nilai kemanusiaan gue sendiri. Sebab, nilai kemanusiaan itu hanya dapat dibina dengan mencintai, dan bukan dengan membenci. Karena itulah gue akan selalu berusaha neladanin Rasulullah yang dengan rasa cintanya justru mau ngedoain orang-orang yang telah menzolimi dan membencinya agar kembali ke jalan yang lurus."
Mengetahui itu, Boy pun bertekad untuk mengikuti jejak Haris. Kini dia tidak mau lagi menjadikan pendapatnyalah yang paling benar, namun dia akan berusaha menyelami pendapat orang lain dan berusaha menyaringnya berdasarkan pendapatnya sendiri yang tak menyimpang dari Al-Quran dan Al-Hadits sehingga kelak bisa didapat pemahaman baru yang mencerahkan. "O ya, Ris. Ngomong-ngomong, lu mau kan nolongin gua mecahin masalah pribadi gua."
"Tentu aja, Boy. Kalo elo emang percaya sama gue, dan ternyata gue emang bisa ngebantu loe, kenapa enggak. Eng, emangnya masalah apa sih?" 
Saat itu, Boy langsung menceritakan masalah cinta butanya yang kini sudah kembali mengganggu pikirannya. Dan setelah mengetahui perkara itu, Haris pun segera mengemukakan pendapatnya, "Eng,,, begini, Boy. Perkara kayak begitu emang gak gampang buat dipecahin. Sebab, emang dibutuhin keberanian, kesabaran, dan kebesaran hati buat nerima apa pun yang bakal terjadi. Kalo elo emang ngerasa hubungan itu bakal menuju kepada kemungkaran, dan elo juga ngerasa gak mampu ngelindungin diri loe, sebaiknya loe itu emang harus berani mengambil sikap tegas, yaitu segera ngawinin Indah atau memutuskannya. Perkara elo bakal nyakitin Indah itu emang udah risiko dia, dan elo eggak perlu ngerasa bersalah, walau dia akan bunuh diri sekalipun. Jika hal itu sampe terjadi tentu akan nyakitin banget, tapi emang begitulah kebenaran, terkadang bikin kita ngerasa enggak berperikemanusiaan, kejam, dan menuduh ketentuan Tuhan itu enggak adil. Ketahuilah…! Sesungguhnya apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata Tuhan, begitu juga sebaliknya. Karena itulah, kita dituntut agar bisa mengambil putusan berdasarkan hati nurani yang sesuai sama keinginan Tuhan, bukan berdasarkan sama keinginan pribadi kita. Dan kita bisa membedakan itu dengan berpedoman pada Al-Quran dan Hadits Rasul. Dan dalam kasus loe, udah jelas kan gimana hukumnya cinta buta itu. Trus untuk apa lagi elo pertahanin. Mending elo segera temui Lala. Bukankah elo bilang dia itu cinta banget sama elo, dan dia menolak loe waktu itu lantaran dia mengira loe masih suci. Gue rasa, kini gak ada lagi alasan Lala buat menolak lamaran loe. Bukankah elo bedua emang udah gak suci lagi."
Setelah mendengar semua itu, Boy pun tampak merenung--memikirkan semua yang telah dikatakan Haris. Hingga akhirnya, dia pun mau menuruti anjuran Haris untuk segera menemui Lala.


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites