Sedia Produk Nasa

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping.

Stok produk

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping

Paket Pendaftaran

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping.

Cristal X

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping..

Propolis

Kami Menyediakan Produk2 Nasa Minat serius bisa koment tinggalkan nomer..nnti kita joinkan grup 085649508182 Happy shoping...

Rabu, 29 Juni 2011

Bunga-bunga Rumput



Senja tinggal segaris siluet oranye di ufuk barat. Beberapa ekor bangau berarak pulang ke sarangnya nun jauh di dalam hutan. Mobil yang membawanya meluncur dengan ringan di atas jalan beraspal. Bona membuka sedikit jendela mobil untuk merasakan belaian udara sore ini. Riak-riak air danau Toba berkilauan ditimpa cahaya senja yang tinggal samar-samar. Dia merasakan suasana yang telah lama dirindukannya. Masih memandang ke luar, bersama buaian senja, lagu Guardian Angel miliknya The Red Jumpsuit Apparatus mengalun lembut dari mp3nya.

Pekatnya malam mulai turun, sementara perjalanan masih sangat panjang. Tiga atau empat jam lagi Bona masih harus duduk di dalam mobil ini. Dia duduk dengan sabar, memandangi hutan yang sudah mulai diam. Beberapa ekor monyet duduk dengan santainya di pinggir jalan, memandangi lalu-lalang di hadapannya. Harmoni alam yang indah, semua terjaga.

Sejenak Bona mencari-cari botol air minumnya yang entah dimana sekarang. Setelah dia menemukannya langsung diteguk air tersebut, dia merasakan kesegaran kembali mengalir di dalam tenggorokannya yang terasa kering bagaikan di gurun Sahara. Ada rasa hangat yang dari tadi bersembunyi di dalam dadanya. Kerinduan akan kampung halamannya sebentar lagi akan terobati, di lain sisi dia juga akan segera menemui mahkluk paling cantik yang telah berhasil mencuri kepingan hatinya.

Sambil menikmati pemandangan indah selama perjalanan, Bona kembali membuka lembaran-lembaran imajinasi. Gadis manis sahabat masa kecilnya selalu terbayang di otaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Sejenak dia mengira-ngira, kurang lebih sudah lima tahun. Tepatnya sejak Bona kuliah di Jawa. Selama itu, dia dan Velin, tidak pernah lagi berhubungan.

Seulas senyum menghiasi bibirnya yang merah dan sedikit kering. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Ada sejumput rasa bahagia yang meletup-letup dalam relung dadanya. Surpise yang indah telah disusunnya sejak jauh-jauh hari. Keyakinan dalam dirinya berkata bahwa kebahagiaan sesaat lagi akan bertemu dengannya.

Tiga jam kemudian, mobil travel yang membawanya tiba di sebuah kota kecil. Kota kelahiran sekaligus tempat Bona dibesarkan. Di kota kecil inilah dia mengerti kehidupan, dan disini lah tertinggal permata hatinya. Kebahagiaan tumpah ruah dalam dadanya, aroma sawah dan gunung langsung merasup masuk jauh kedalam tubuhnya. Suasana damai yang sudah lama dia tinggal pergi, dan sekarang dia kembali disapa aroma kehidupan kota kecil ini.

Gapura kecil bertuliskan “Horas, Selamat datang di Bona Pasogit Tarutung” menyambut kedatangan si anak rantau. Akhirnya sepuluh menit kemudian, mobil L300 itu memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Welcome Home, teriak Bona.

Part 2

Goodbye My Lover




Dan memang benar, hanya Tuhan yang tahu takdir kita. Ketulusan hati lah yang membantu kita menemukannya…

Malam itu, malam ke 100 mereka dekat. Dalam roman cinta di Korea, pada hari ke 100 sebuah hubungan, masing-masing pasangan harus mengungkapkan perasaannya, atau jika mereka anniversary, tentunya harus memberikan hadiah khusus dan special pada pasangannya masing-masing. So, the 100th days is the

important one.

Lee Soo Won (18) dan Kim Jung Hyun (19).

Malam itu adalah malam ke 100 Kim Jung Hyun mengenal—dan dekat—dengan perempuan yang membuatnya percaya akan kata-kata love at the first sight, Lee Soo Won. Ia memang sesosok gadis yang sangat anggun, pintar, serta ramah dengan orang-orang sekitarnya. Bahkan menurut Kim Jung Hyun sendiri, gadis itu memberikan aura yang berbeda apabila berada di dekat nya. Suasana menjadi hangat dan dunia pun seperti menyerahkan segalanya untuk mereka.

Sabtu, 11 Februari 2011 11.11 PM

“Soo Won-sshi, malam ini, di tempat paling indah di Negara kita, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebelumnya, aku minta maaf karna baru sekarang aku mampu mengatakannya.”

“Ne, oppa. Aku akan mendengarkanmu” ujar Lee Soo Won sembari tersenyum. Senyuman gadis itu begitu menawan, sehingga membuat Kim Jung Hyun semakin gugup dan speechless.

“…..aku menyayangimu, Lee Soo Won” ucap Kim Jung Hyun. Sepertinya sangat tulus dari hatinya.

“Oppa…”

“Izinkan aku menjelaskannya. Sejak pertama kali aku melihatmu, ketika kamu mengikuti tes untuk masuk ke Kyunghee University, aku langsung tertarik padamu. Senyummu, tawamu, semuanya. Apa kau tau? Aku tidak pernah menyukai siapapun sebelumnya. Aku tidak pernah tertarik untuk berbicara tentang kisah-kisah seperti itu. Sahabat-sahabat dan orang-orang terdekatku pun heran dan sering mengatakan bahwa aku ini tidak waras. Tapi, sejak aku mengenalmu, dan seketika pun kita dekat, aku merasakan arti sebuah kasih sayang. Semesta seperti menakdirkan kehadiranmu di sini hanya untukku. Aku benar-benar menyayangimu, Lee Soo Won. Apa kah kau merasakan hal yang sama denganku? Dan…apakah kau mau menjadi…kekasihku?” Jung Hyun menjelaskan perasaannya pada Soo Won. Memang benar, Jung Hyun belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Padahal ia termasuk salah satu aktivis teratas di kampusnya. Banyak gadis yang mendambakan dirinya. Tetapi, dingin hatinya selalu menghalangi.

Part2

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita



Ketika kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.

Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas keluar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.

Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa daerah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun Ayah berjanji akan membawamu ke sebuah negara di Eropa nanti. “Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,” kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia, setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. “Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.”

Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkanmu dia hanya berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tapi dilakukan beberapa kali. DIa tak berhenti menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.

“Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.”

bersambung...

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita prat 2

Payung


Dian menjulurkan lehernya keluar jendela. Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu. Terdengar gemuruh guntur berkepanjangan di kejauhan, mirip suara bergulirnya ban raksasa di jalan beton yang bergelombang dan berlubang.

Sambil berjongkok dan mengintip kolong lemari, ia menarik keluar sebuah payung besar warna-warni kebanggaannya. Besarnya hampir seperti payung yang setia bertengger di atas gerobak penjual buah dingin di ujung gang. Payung ini benda terbaru dan terbagus yang ia miliki saat ini. Warna kainnya masih cemerlang, berbeda warna di setiap lengkungannya. Gagangnya terbungkus kayu yang dipernis warna coklat muda.

Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan tempat Bapak biasa memulung sampah. Waktu ditemukan, tiga bilah rangkanya terlepas sehingga payung menjadi bengkok jika dikembangkan. Padahal, hanya jahitannya saja yang putus, sedangkan rangkanya masih bagus dan berkilap. Dengan bantuan Bang Ayub, tetangga sebelah rumah, sebentar saja payung selesai dijahit. Ongkosnya gratis, begitu kata Bang Ayub.

Kebetulan ada Mak yang menjaga Diyon di rumah. Sebentar lagi Bapak pulang. Sambil menenteng sandal jepit kuningnya, Dian berjalan mengendap-endap melangkahi tubuh Mak dan Diyon yang sedang tidur pulas, melintang di atas kasur tipis di tengah rumah. Pintu rumahnya berderit pelan saat ditutup.

Sejak payung itu jadi miliknya, hujan membawa gairah baru dalam hidup Dian. Hujan berarti kerja. Kerja berarti rezeki. Seperti Bapak, ia juga ingin membawa pulang sejumlah uang ke rumah. Hari ini payungnya akan beraksi untuk kedua kalinya. Pengalaman pertamanya sebagai pengojek payung seminggu yang lalu menghasilkan tiga belas ribu rupiah dalam waktu dua jam, di tengah guyuran hujan yang tak seberapa deras. Harusnya bisa mencapai paling sedikit enam belas ribu rupiah jika Markun tak mendadak muncul dan merebut paksa tiga calon pelanggannya.

Hari ini pasti lebih banyak, pikirnya. Sekarang adalah waktunya para karyawan—yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu—pulang kerja. Mereka yang tak mendapat tumpangan kendaraan akan membutuhkan payungnya untuk menuju halte bus atau pangkalan taksi.

bersambung...


Payung Prat 2

SETETES EMBUN CINTA NIYALA



SIAPAKAH yang mampu hidup tanpa cinta?

Perempuan manakah yang bisa membangun singgasana rumah tangganya tanpa cinta? Ia bertanya pada dirinya sendiri dengan hati pilu.

Tak ada! Jawabnya sendiri.

Kecuali, manusia yang hidup tanpa hati dan nurani, seperti pelacur yang biasa hidup nista dan mendustakan cinta. Bahkan seekor merpati yang tiada dikaruniai akal pikiran menerima pasangan hidupnya atas dasar cinta. Tuhan menciptakan mahklukNya di semesta raya ini juga atas dasar kehendak dan cintaNya. Matahari, rembulan dan bintang bersinar karena cinta. Lautan menampung segala sisa dan kotoran yang mengalir dari daratan dengan penuh cinta. Sungai mengalir karena cinta. Angin bertiup karena cinta. Pohon berbuah karena cinta. Bunga-bunga bermekaran karena cinta. Lebah meneteskan madu karena cinta. Dan hidup ini pada asalnya adalah aliran cinta. Sumbernya adalah samudra cinta Allah yang meliputi semesta. Dan segala benda dalam alam raya tunduk patuh menyembah Allah juga atas dasar cinta. Bukankah kesejatian penyembahan dan kepatuhan itu terlahir dari kedahsyatan cinta? Lalu kenapa selalu saja ada yang mengusik hukum cinta?

Ia masih terduduk diatas sajadahnya. Kedua matanya terpejam. Dari dua sudut matanya keluar tetesan bening seperti embun.

Oh, haruskah aku gadaikan hidupku ini? Pasrah tercampak tanpa mimpi mulia seperti pelacur hina yang kalah oleh nafsunya. Hampa, pahit dan getir tanpa cinta. Oh! Bukankah lebih baik aku mati saja jika harus menyerahkan mahkota kehormatan tanpa cinta. Menerima pasangan hidup dengan hati perih tersiksa. Merentas hidup baru hanya untuk mereguk nestapa selamanya. Melayani suami tanpa cinta. Terpaksa dan tersiksa. Melahirkan anak tanpa rasa bangga. Hidup selamanya diatas derita batin tiada tara.

Oh, jika demikian adanya, bukankah aku lebih kalah dari pelacur itu. Mereka mereguk hidupnya atas kehendaknya, atas pilihannya, bahkan mereka bisa begitu menikmati hidup yang dijalani meskipun menistakan cinta. Tapi aku, aku akan hidup dalam bara belenggu keterpaksaan dan pemerkosaan sampai akhir hayat! Kenapa aku mesti mereguk kekalahan ini? Kekalahan untuk hidup ditinggal cinta, dipeluk kebencian dan kehinaan. Kenapaa!? Bukankah ini azab yang tiada tara perihnya? Apakah aku memang berhak menerima azab sepedih ini? Dosa apakah yang telah aku perbuat?

Pertanyaan-pertanyaan itu mencerca dan menusuk-nusuk ulu hatinya. Merajam-rajam batok kepalanya. Sakit, nyeri, perih dan pedih. Air matanya meleleh.

bersambung

Baca lanjutannya

Selembar Uang 5000




Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan untuk membujuknya.
“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.
“Mungkin dia lapar, Sri.”
“Mungkin iya, Mbak.”
“Tadi anakmu sudah makan belum ?”
“Belum.”
“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”

Sri tersenyum. Menelan ludah yang terasa kian hambar di lidah yang sejak kemarin belum kemasukan makanan. Tawar dan getir adalah hiasan hidupnya.
“Kok malah senyam-senyum. Wong anak sedang rewel kok dibiarkan.”
“Anu, Mbak. Saya belum masak hari ini.” Jawab Sri dengan suara tercekat.
Kening Wati berlipat seketika. Matanya menatap jam dinding yang sedang bergerak menunju angka sepuluh.

“Sampai siang begini belum masak? Kenapa?”
“Ehm… “ Sri agak canggug meneruskan kalimatnya. “Beras kami habis.”
Wati mulai menangkap permasalahan Sri, yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Nasibnya dengan Sri tidak jauh berbeda. Hanya saja Wati belum dikaruniai anak meskipun telah menikah hampir lima tahun.
“Kalau habis, kenapa tidak beli Sri?” Pancing Wati.
“Sebenarnya pengen beli, Mbak. Tapi… kami sedang tidak punya uang.” Wajah Sri menunduk, menyembunyikan rasa sedih yang telah menjadi teman dalam kesehariannya. Sri tahu, tak ada gunanya berpura-pura di depan Wati. Wanita itu tahu persis bagaimana kehidupannya. Hanya saja Sri tidak enak hati kalau dengan keterusterangannya membuat Wati iba dan ikut bingung mencari jalan keluarnya. Bagaimanapun Sri juga menyadari kalau nasib Wati juga tidak lebih baik darinya. Mereka sama-sama perantau dari kampung yang ingin merubah nasib di kota seperti Surabaya. Hanya saja rumah petak mereka letaknya agak berjauhan.

“Kami menunggu Bapaknya Dian pulang.” Ucapnya lirih. Tangan kusamnya mengelus kening Dian, anak semata wayangnya yang telah tenang. Sebenarnya Sri tak yakin dengan ucapannya. Pekerjaan suaminya yang hanya penarik becak tidak bisa diharapkan setiap saat. Padahal tiap hari mereka harus memberi setoran kepada juragan becak. Sejak kemarin ia dan suaminya belum makan. Hanya minum air putih yang diberi sedikit gula. Segenggam beras yang tersisa dia buat bubur untuk anaknya. Dan hari ini Sri benar-benar tidak memliki apa-apa. Hanya beberapa sendok gula di toples. Sri dan suaminya memilih mengalah. Air gula yang ada mereka berikan untuk Dian.

“Sri.” Sapa Wati lembut. “Kamu tidak biasa hutang?”
Sri menggeleng lemah. Ia begitu memegang erat wejangan suaminya agar tidak membiasakan berhutang. Hutang hanyalah jerat yang bisa mencekik setiap saat. Apalagi. bersambung


ingin tahu kelanjutannya Download aja ni
Selembar Uang 5000

Takbir Cinta Zahrana




Tidak hanya itu, ia juga pernah mendapatkan
penghargaan sebagai dosen paling berdedikasi di
kampusnya. Ia sangat disegani oleh sesama dosen dan
dicintai oleh mahasiswanya. Ia juga disayang oleh
keluarga dan para tetangganya. Bagi perempuan
seusianya, nyaris tidak ada yang kurang pada dirinya.
Sudah berapa kali ia mendengar pujian tentang
kesuksesannya. Hanya ia seorang yang tahu bahwa
sejatinya ia sangat menderita.
Ada satu hal yang ia tangisi setiap malam. Setiap kali
bermunajat kepada Sang Pencipta siang dan malam. Ia
menangisi takdirnya yang belum juga berubah. Takdir
sebagai perawan tua yang belum juga menemukan
jodohnya. Dalam keseharian ia tampak biasa dan ceria.
Ia bisa menyembunyikan derita dan sedihnya dengan
sikap tenangnya.
Ia terkadang menyalahkan dirinya sendir kenapa tidak
menikah sejak masih duduk di S.l dahulu? Kenapa tidak
berani menikah ketika si Gugun yang mati-matian
mencintainya sejak duduk di bangku kuliah itu
mengajaknya menikah?
Ia dulu memandang remeh Gugun. Ia menganggap Gugun
itu tidak cerdas dan tipe lelaki kerdil. Sekarang si
Gugun itu sudah sukses jadi pengusaha cor logam dan
baja di Klaten. Karyawannya banyak dan anaknya sudah
tiga. Gugun sekarang juga punya usaha Travel Umroh di
Jakarta. Setiap kali bertemu, nyaris ia tidak berani
mengangkat muka.

bersambung,

ingin tahu selengkapnya ??
silahkan download aja Takbir Cinta Zahrana

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites