
Senja tinggal segaris siluet oranye di ufuk barat. Beberapa ekor bangau berarak pulang ke sarangnya nun jauh di dalam hutan. Mobil yang membawanya meluncur dengan ringan di atas jalan beraspal. Bona membuka sedikit jendela mobil untuk merasakan belaian udara sore ini. Riak-riak air danau Toba berkilauan ditimpa cahaya senja yang tinggal samar-samar. Dia merasakan suasana yang telah lama dirindukannya. Masih memandang ke luar, bersama buaian senja, lagu Guardian Angel miliknya The Red Jumpsuit Apparatus mengalun lembut dari mp3nya.
Pekatnya malam mulai turun, sementara perjalanan masih sangat panjang. Tiga atau empat jam lagi Bona masih harus duduk di dalam mobil ini. Dia duduk dengan sabar, memandangi hutan yang sudah mulai diam. Beberapa ekor monyet duduk dengan santainya di pinggir jalan, memandangi lalu-lalang di hadapannya. Harmoni alam yang indah, semua terjaga.
Sejenak Bona mencari-cari botol air minumnya yang entah dimana sekarang. Setelah dia menemukannya langsung diteguk air tersebut, dia merasakan kesegaran kembali mengalir di dalam tenggorokannya yang terasa kering bagaikan di gurun Sahara. Ada rasa hangat yang dari tadi bersembunyi di dalam dadanya. Kerinduan akan kampung halamannya sebentar lagi akan terobati, di lain sisi dia juga akan segera menemui mahkluk paling cantik yang telah berhasil mencuri kepingan hatinya.
Sambil menikmati pemandangan indah selama perjalanan, Bona kembali membuka lembaran-lembaran imajinasi. Gadis manis sahabat masa kecilnya selalu terbayang di otaknya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Sejenak dia mengira-ngira, kurang lebih sudah lima tahun. Tepatnya sejak Bona kuliah di Jawa. Selama itu, dia dan Velin, tidak pernah lagi berhubungan.
Seulas senyum menghiasi bibirnya yang merah dan sedikit kering. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Ada sejumput rasa bahagia yang meletup-letup dalam relung dadanya. Surpise yang indah telah disusunnya sejak jauh-jauh hari. Keyakinan dalam dirinya berkata bahwa kebahagiaan sesaat lagi akan bertemu dengannya.
Tiga jam kemudian, mobil travel yang membawanya tiba di sebuah kota kecil. Kota kelahiran sekaligus tempat Bona dibesarkan. Di kota kecil inilah dia mengerti kehidupan, dan disini lah tertinggal permata hatinya. Kebahagiaan tumpah ruah dalam dadanya, aroma sawah dan gunung langsung merasup masuk jauh kedalam tubuhnya. Suasana damai yang sudah lama dia tinggal pergi, dan sekarang dia kembali disapa aroma kehidupan kota kecil ini.
Gapura kecil bertuliskan “Horas, Selamat datang di Bona Pasogit Tarutung” menyambut kedatangan si anak rantau. Akhirnya sepuluh menit kemudian, mobil L300 itu memasuki sebuah gang kecil dan berhenti tepat di depan sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Welcome Home, teriak Bona.
Part 2
















